Tio Pakusadewo Tolak Konsumsi Obat Hipertensi Pasca-Stroke: Pilih Pengobatan Herbal dan Gaya Hidup Aktif
Tio Pakusadewo Pilih Herbal dan Aktivitas Fisik Setelah Dua Kali Terserang Stroke
Aktor senior Tio Pakusadewo mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengalami stroke sebanyak dua kali pada tahun 2020. Meskipun demikian, ia memilih untuk tidak mengikuti saran dokter untuk mengonsumsi obat hipertensi secara rutin. Keputusan ini didasari oleh preferensinya terhadap pengobatan alternatif dan keyakinan pada kekuatan gaya hidup sehat.
"Dokter menyarankan obat hipertensi seumur hidup, tapi saya tidak mau. Jadi, sehari-hari saya tidak minum obat apa pun," ujar Tio Pakusadewo saat ditemui di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.
Alih-alih bergantung pada obat-obatan kimia, aktor berusia 61 tahun ini memilih untuk mengonsumsi herbal seperti madu dan daun kelor. Ia juga menekankan pentingnya aktivitas fisik dalam menjaga kebugaran tubuhnya.
"Saya cuma konsumsi madu dan daun kelor. Saya juga berusaha untuk terus bergerak setiap hari, terutama berenang," jelasnya.
Pantangan Makanan dan Pikiran Positif
Dalam hal makanan, bintang film "Putri Bintang Lima" ini mengaku tidak memiliki pantangan khusus. Ia percaya bahwa terlalu memikirkan penyakit justru dapat memperburuk kondisi kesehatan.
"Memikirkan penyakit itu membuat kita semakin sakit. Kita jadi memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Jadi, la tahzan saja, jalani saja," tegas Tio Pakusadewo.
Pengalaman Stroke dan Pertolongan Teman
Meski telah dua kali mengalami stroke, kondisi fisik Tio Pakusadewo saat ini terlihat baik-baik saja. Ia bersyukur masih diberikan keselamatan, terutama karena saat kejadian ia sedang sendirian di rumah.
"Saya sendiri di rumah, jam 2 pagi mengalami linglung terus blackout, terus sadar lagi. Saya berusaha menghubungi nomor anak-anak, tapi tidak ada yang menjawab karena jam 2 pagi," ceritanya.
Dalam keadaan darurat tersebut, Tio Pakusadewo akhirnya menghubungi teman-teman SMP-nya untuk meminta bantuan. Mereka segera datang dan memberikan pertolongan pertama.
"Saya bangun lagi jam 5-an. Saya telepon teman-teman saya, mereka datang jam 12 ke rumah. Mereka naik pagar, lompat, bongkar semua, masuk kamar. Saya dalam keadaan yang tidak bisa apa-apa," ungkapnya.
Berkat kesigapan teman-temannya, Tio Pakusadewo segera dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON). Ia meyakini bahwa pertolongan cepat tersebut sangat krusial dalam menyelamatkan nyawanya.
"Mereka mencoba membuat karena mereka pikir masih golden hour, karena di stroke itu kan ada golden hour. Di golden hour itu mereka berusaha mengeluarkan darah dari tangan, dari kuping, dari apa, terus dibawa ke RS PON. Untungnya dibawa ke situ, kalau tidak dibawa ke situ mungkin sudah (meninggal)," pungkas Tio Pakusadewo.
Pernyataan Disclaimer: Informasi dalam artikel ini hanya bersifat informasi dan tidak boleh dianggap sebagai pengganti saran medis profesional. Selalu konsultasikan dengan dokter atau ahli kesehatan lainnya untuk diagnosis dan pengobatan kondisi medis Anda.