Kulon Progo Cetak Panen Raya di Tengah Ancaman Banjir, Normalisasi Sungai Jadi Harapan Petani

Kulon Progo Cetak Panen Raya di Tengah Ancaman Banjir, Normalisasi Sungai Jadi Harapan Petani

Ratusan hektar sawah di kawasan Rawa Jembangan, Kulon Progo, Yogyakarta, tengah bersukacita menyambut panen raya. Keberhasilan ini terasa istimewa mengingat sawah-sawah tersebut kerap menjadi langganan banjir akibat luapan Sungai Papak.

Slamet Riyanto, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sedyo Makmur, mengungkapkan bahwa panen kali ini meliputi seluruh lahan seluas 115,16 hektar yang dikelola oleh petani Klipuh. "Ini adalah hasil kerja keras seluruh masyarakat tani di Klipuh," ujarnya.

Bertahan di Tengah Risiko Banjir

Mayoritas penduduk Klipuh menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Sawah mereka terletak di dataran rendah dan bergantung pada irigasi dari Sungai Papak, serta air hujan dan mata air dari perbukitan. Kondisi ini menjadikan mereka rentan terhadap banjir, terutama saat musim hujan tiba. Sungai Papak yang dangkal dan menyempit seringkali meluap, menggenangi sawah-sawah mereka.

"Banjir terakhir terjadi belum lama ini, pada bulan Maret. Untungnya, air hanya mencapai bagian bawah tanaman padi, sehingga tidak sampai merusak hasil panen. Jika saat itu padi sampai terendam, bisa dipastikan akan gagal panen," jelas Slamet.

Slamet sendiri mengelola lahan seluas 2.100 meter persegi dan mampu menghasilkan sekitar 1,7 ton gabah pada musim panen kali ini. Ia mengaku terbantu dengan harga gabah yang stabil dari Bulog, yakni Rp 6.500 per kilogram. Namun, ia juga mengakui pernah mengalami kerugian hingga Rp 2 juta akibat gagal panen karena sawah terendam banjir.

Normalisasi Sungai Jadi Kunci

Sungai Papak terakhir kali dinormalisasi pada tahun 1991. Sejak saat itu, terjadi penyempitan signifikan dari 12 meter menjadi hanya 2 meter, sehingga sungai mudah meluap dan menyebabkan banjir. Kondisi ini membuat petani Gulurejo berharap agar normalisasi Sungai Papak dapat segera direalisasikan.

Lurah Gulurejo, Beja, mengungkapkan harapannya agar normalisasi segera dilakukan agar petani tidak terus dihantui kekhawatiran setiap musim hujan tiba. "Genangan air sudah seperti sungai," katanya.

Hasil tinjauan bersama Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) menunjukkan bahwa normalisasi dapat dilakukan sepanjang 4 kilometer. Selain mengatasi masalah banjir, normalisasi juga akan berdampak positif pada jembatan, bendungan, dan jalan kabupaten yang kondisinya sudah tidak layak. Selain itu, pembangunan jalan usaha tani juga sangat dibutuhkan untuk mempermudah aksesibilitas petani ke lahan mereka.

Dukungan Pemerintah Daerah

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menyampaikan optimisme terhadap kemandirian pangan di wilayahnya, yang ditunjukkan dengan banyaknya panen raya. "Kita masih cukup menyangga kebutuhan pangan Kulon Progo, bahkan surplus untuk berkontribusi ke daerah sekitarnya," ujarnya.

Namun, ia menekankan pentingnya penanganan cepat terhadap lahan-lahan pertanian yang rentan terhadap banjir. Koordinasi dengan BBWSO dan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY telah berlangsung selama tiga tahun terakhir untuk mencari solusi terbaik.

Tri Saktiyana, Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Pembangunan DIY, menyampaikan pesan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X mengenai pentingnya strategi tata air yang tepat dan pendekatan teknis-partisipatif. "Saat air menggenang, bukan hanya panen yang hilang, tetapi juga penghidupan dan masa depan petani. Harus ada perhatian khusus," tegas Tri.

Slamet, mewakili para petani, menyambut baik komitmen dari pemerintah dan berharap agar program normalisasi sungai benar-benar dapat direalisasikan. "Kami sangat berharap normalisasi ini bisa terwujud. Kabarnya dari desa sudah diajukan dua tahun lalu, tapi sampai sekarang belum juga terealisasi," pungkasnya.

Daftar Poin Penting:

  • Panen raya di Rawa Jembangan, Kulon Progo, meskipun terancam banjir.
  • Sungai Papak perlu normalisasi karena penyempitan.
  • Dukungan dari Pemkab Kulon Progo dan Pemda DIY untuk pertanian.
  • Harapan petani terhadap realisasi normalisasi sungai.
  • Peran BBWSO dalam tinjauan normalisasi sungai.