Banjir Bekasi Sorot Nasib SMAN 21 yang Masih Menumpang Gedung
Banjir Bekasi Sorot Nasib SMAN 21 yang Masih Menumpang Gedung
Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 21 Bekasi, yang terdampak banjir besar pekan lalu, kembali menyita perhatian publik, bukan hanya karena genangan air yang merendamnya, tetapi juga karena kondisi prekaris sekolah tersebut yang masih mengontrak gedung. Kunjungan Wakil Presiden (Wapres) RI, Gibran Rakabuming Raka, ke sekolah tersebut pada Rabu (5/3/2025), membuka tabir perjuangan panjang SMAN 21 Bekasi dalam memperoleh gedung dan lahan sendiri. Kondisi ini terungkap saat pihak sekolah mengadukan permasalahan mereka kepada Wapres Gibran.
Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kurikulum, Rina Sulastri, menjelaskan bahwa SMAN 21 Bekasi telah berdiri sejak tahun 2016 dan hingga kini masih menumpang di gedung milik yayasan. Kejutan tampak terpancar dari raut wajah Wapres Gibran saat mendengar pengakuan tersebut. "Beliau cukup terkejut, menyatakan, 'Oh ya, ini masih numpang ya?'," ungkap Rina saat ditemui di sekolah, Kamis (6/3/2025). Ketidakpastian kepemilikan lahan dan gedung ini telah menghantui sekolah selama hampir satu dekade. Upaya yang telah dilakukan pihak sekolah untuk mendapatkan lahan sendiri melalui berbagai jalur birokrasi, mulai dari tingkat provinsi hingga ke pemerintah pusat, hingga saat ini belum membuahkan hasil yang memuaskan.
Meskipun menghadapi kendala tersebut, Wapres Gibran menunjukkan kepedulian dan komitmen untuk membantu. Meskipun demikian, beliau menekankan pentingnya pelaksanaan ujian bagi siswa kelas 12 agar tetap berjalan lancar. "Beliau berjanji akan membantu dan berupaya untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Namun, beliau juga meminta agar pelaksanaan ujian tetap dilaksanakan sesuai jadwal," tambah Rina. Pernyataan dukungan dari Wapres ini memberikan secercah harapan bagi pihak sekolah dan civitas akademika yang telah berjuang keras selama bertahun-tahun untuk mendapatkan tempat belajar yang layak dan permanen.
Perjuangan SMAN 21 Bekasi untuk memiliki lahan dan gedung sendiri bukanlah hal yang mudah. Proses pengajuan lahan telah dilakukan berulang kali sejak tahun 2016, namun hingga kini belum ada titik terang. "Setiap tahun, setiap saat, kami terus berjuang mengajukan permohonan lahan ke pemerintah dan dinas terkait di tingkat provinsi, tetapi hingga kini belum ada realisasi," jelas Rina dengan nada yang sedikit getir. Kejadian banjir besar yang melanda sekolah ini semakin mempertegas perlunya perhatian serius dari pemerintah daerah dan pusat terhadap kondisi infrastruktur pendidikan di wilayah Bekasi.
Kejadian ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kebijakan dan proses pengadaan lahan untuk fasilitas pendidikan di daerah. Perhatian Wapres Gibran atas permasalahan ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi percepatan penyelesaian permasalahan yang dihadapi SMAN 21 Bekasi dan sekolah-sekolah lain yang mungkin mengalami nasib serupa. Ke depan, pengawasan dan transparansi dalam proses pengadaan lahan untuk fasilitas pendidikan perlu ditingkatkan untuk mencegah terulangnya kasus serupa dan menjamin akses pendidikan yang layak bagi seluruh siswa di Indonesia.
Berikut poin-poin penting terkait permasalahan SMAN 21 Bekasi:
- Sekolah masih mengontrak gedung dan belum memiliki lahan sendiri sejak berdiri tahun 2016.
- Upaya pengadaan lahan telah dilakukan berulang kali namun belum membuahkan hasil.
- Wapres Gibran berjanji membantu namun meminta ujian tetap berjalan.
- Kejadian banjir memperparah kondisi dan menyoroti masalah infrastruktur pendidikan.
- Permasalahan ini membutuhkan solusi jangka panjang dan pengawasan yang ketat.