Kirin Kembangkan AI untuk Selamatkan Sakura Jepang dari Kepunahan Akibat Perubahan Iklim

Ikon Musim Semi Jepang Terancam: Kirin Gandeng AI Selamatkan Sakura dari Kepunahan

Pohon sakura, simbol ikonik musim semi Jepang, menghadapi ancaman serius akibat faktor usia dan perubahan iklim. Menanggapi tantangan ini, perusahaan minuman terkemuka, Kirin, telah mengembangkan solusi inovatif berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Sakura AI Camera untuk membantu pemerintah daerah mengidentifikasi dan melestarikan pohon sakura yang kondisinya memburuk. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi angin segar bagi upaya konservasi sakura di seluruh Jepang.

Sakura AI Camera bekerja dengan memanfaatkan teknologi pengenalan gambar. Pengguna, termasuk masyarakat umum, dapat mengambil foto pohon sakura menggunakan ponsel pintar mereka dan mengunggahnya ke platform daring khusus. Sistem AI kemudian menganalisis foto tersebut dan memberikan penilaian kondisi pohon berdasarkan skala lima tingkat, mulai dari "sangat sehat" hingga "mengkhawatirkan." Penilaian ini mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kepadatan bunga, kondisi ranting, dan kesehatan keseluruhan pohon. Pohon yang menunjukkan pertumbuhan bunga yang lebat hingga ke ujung ranting akan mendapatkan nilai tertinggi.

AI ini dilatih menggunakan lebih dari 5.000 gambar pohon sakura dan keahlian para ahli botani, memastikan akurasi dan keandalan penilaian. Data yang dikumpulkan melalui Sakura AI Camera dipetakan secara visual pada situs web, menampilkan informasi kondisi dan lokasi setiap pohon yang dianalisis. Informasi ini tersedia secara gratis bagi pemerintah daerah dan organisasi konservasi, memungkinkan mereka untuk memprioritaskan upaya pelestarian dan mengalokasikan sumber daya secara efektif.

Risa Shioda dari Kirin menjelaskan bahwa pengembangan Sakura AI Camera dilatarbelakangi oleh kesulitan yang dihadapi dalam upaya konservasi sakura, termasuk keterbatasan tenaga manusia, pendanaan, dan pengumpulan data. "Kami yakin bahwa Sakura AI Camera dapat berkontribusi signifikan dengan mempermudah perencanaan konservasi dan menyediakan data yang akurat dan komprehensif," ujarnya.

Sejak diluncurkan bulan lalu, Sakura AI Camera telah mengumpulkan lebih dari 20.000 foto pohon sakura. Data yang terkumpul menunjukkan bahwa banyak pohon sakura di Jepang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan, sebagian besar disebabkan oleh usia tua dan dampak perubahan iklim.

Biaya Perawatan Sakura Melambung Tinggi

Menurut pemerintah distrik Meguro di Tokyo, biaya untuk menanam kembali satu pohon sakura dapat mencapai satu juta yen (sekitar Rp 110 juta). Hal ini menunjukkan betapa mahalnya upaya konservasi sakura, dan betapa pentingnya untuk mengidentifikasi dan melestarikan pohon yang sudah ada.

Hiroyuki Wada dari Japan Tree Doctors Association, yang terlibat dalam pengembangan Sakura AI Camera, menekankan pentingnya teknologi ini dalam memahami faktor-faktor yang mempercepat penurunan kondisi pohon sakura. Ia menyoroti perubahan iklim, termasuk peningkatan suhu dan kekurangan curah hujan, sebagai ancaman utama bagi kesehatan pohon sakura. Faktor usia juga semakin memperburuk situasi.

"Saya sangat khawatir. Perubahan lingkungan biasanya terjadi perlahan, namun kini terlihat jelas," kata Wada. Badan Meteorologi Jepang melaporkan bahwa tahun lalu merupakan tahun terpanas sejak pencatatan dimulai, sejalan dengan tren global.

Sakura AI Camera diharapkan dapat menjadi alat yang berharga bagi para ahli dan masyarakat umum untuk memantau kondisi pohon sakura, mengidentifikasi ancaman, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melestarikan ikon musim semi Jepang ini untuk generasi mendatang.