Ulat dan Serangga Masuk Menu Restoran Mewah: Tren Kuliner Berkelanjutan di Inggris

London – Dunia kuliner Inggris sedang mengalami transformasi signifikan dengan munculnya hidangan inovatif berbahan dasar ulat dan serangga. Chef ternama mulai mengadopsi bahan-bahan ini sebagai alternatif protein yang lezat dan ramah lingkungan, menandai babak baru dalam gastronomi berkelanjutan.

Restoran mewah kini tidak hanya menawarkan hidangan klasik berbahan daging konvensional, tetapi juga bereksperimen dengan olahan ulat sutera dan serangga. Kandungan protein tinggi serta tekstur unik menjadi alasan utama bahan ini dilirik. Misalnya, ulat panggang dengan bumbu paprika telah memukau para chef ternama seperti Alain Ducasse, yang menyebut hidangan ini "memadukan kelezatan, kesehatan, dan keberlanjutan".

Dua chef Inggris, Laura Portelli dan Christophe Saintagne, terinspirasi untuk menciptakan menu serupa. Mereka juga memperkenalkan hidangan eksperimental lain, seperti udang mentah yang diawetkan selama 30 hari, disajikan dengan nasi dan rumput laut. "Ini tentang mendorong batas kreativitas dan mempertanyakan norma kuliner," ujar Saintagne.

Gerakan ini didukung pendanaan £15 juta dari UKRI untuk National Alternative Protein Innovation Centre (NAPIC), yang bertujuan meningkatkan konsumsi protein non-daging. Saat ini, hanya 9% protein non-daging yang dikonsumsi di Inggris, menurut data WWF. Adopsi protein alternatif diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Di Asia, konsumsi serangga dan ulat sudah lama menjadi bagian dari kuliner tradisional. Thailand terkenal dengan jajanan serangga goreng, sementara Indonesia mengolah ulat sagu menjadi sate atau tumisan. Kini, tren serupa mulai mendapat tempat di Eropa, menandai era baru kuliner global yang berkelanjutan.