Eskalasi Tarif AS-China Picu Kekhawatiran Gangguan Rantai Pasok Global
Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China kembali memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha internasional. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti potensi gangguan signifikan pada sistem logistik global akibat kebijakan tarif timbal balik kedua negara adidaya tersebut.
Adhi Lukman, Ketua Bidang Industri Manufaktur Apindo, mengungkapkan bahwa ketidakseimbangan distribusi kontainer menjadi ancaman serius. "Dominasi perdagangan AS-China yang mencapai 16,6% dari total perdagangan dunia menciptakan ketergantungan sistemik. Jika arus barang antara kedua negara terganggu, akan terjadi penumpukan kontainer di satu wilayah dan kelangkaan di wilayah lain," jelasnya dalam pertemuan di Jakarta.
Beberapa dampak yang diperkirakan muncul: - Lonjakan biaya transportasi laut hingga 300% seperti terjadi selama pandemi - Penumpukan produk manufaktur China di pasar alternatif - Distorsi harga komoditas akibat ketidakseimbangan pasokan - Penurunan kapasitas produksi di sektor manufaktur global
Pemerintah China baru-baru ini memberlakukan tarif 125% pada 128 produk AS, termasuk kedelai dan kendaraan listrik. Sementara AS membalas dengan kenaikan tarif menjadi 145% untuk produk elektronik dan panel surya dari China. Kebijakan proteksionis ini diperkirakan akan mengurangi volume perdagangan bilateral hingga $50 miliar pada 2025.
Para analis memperingatkan efek domino yang mungkin terjadi: 1. Alih produksi ke negara-negara ASEAN 2. Perubahan rute perdagangan global 3. Inflasi harga barang konsumen di pasar berkembang 4. Penurunan permintaan bahan baku industri
"Kami mengamati pola serupa dengan krisis 2018-2019, tetapi dengan intensitas lebih tinggi karena kondisi ekonomi global yang masih fragile pasca-pandemi," tambah Adhi. Data terakhir menunjukkan kapasitas terpakai pelabuhan utama di Asia telah turun 12% sejak awal konflik tarif ini.