Indonesia dan Swiss Perkuat Kolaborasi Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air
PT PLN (Persero) menegaskan komitmennya dalam mempercepat transisi energi dengan fokus pada pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Dalam upaya ini, perusahaan membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan investor Swiss, untuk mengoptimalkan potensi energi terbarukan yang belum termanfaatkan secara maksimal.
Menurut data terbaru, kapasitas terpasang PLTA di Indonesia saat ini baru mencapai 5,8 gigawatt (GW) dari total potensi yang diperkirakan sebesar 29 GW. Suroso Isnandar, Direktur Manajemen Risiko PLN, menyatakan bahwa pemanfaatan energi air masih menjadi prioritas dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). "Kami berkomitmen meningkatkan porsi energi bersih, termasuk melalui pengembangan PLTA skala besar maupun mini," ujarnya dalam Konferensi PLTA Indonesia-Swiss 2025 di Jakarta.
Beberapa poin penting yang diungkapkan dalam forum tersebut: - Komposisi energi saat ini: 66% pembangkit listrik masih bergantung pada batu bara, sementara energi bersih baru menyumbang 13%. - Target RUPTL: Dalam dekade mendatang, kapasitas pembangkit listrik akan ditambah 71 GW, dengan 59%-nya berasal dari sumber terbarukan, termasuk 11,7 GW dari PLTA. - Peran Swiss: Negara ini dinilai memiliki rekam jejak kuat dalam teknologi PLTA, termasuk pembangitan tertua di Indonesia yang menggunakan peralatan buatan Swiss.
Olivier Zehnder, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, menekankan bahwa negaranya siap mendukung pengembangan PLTA di Indonesia. "Swiss memiliki lebih dari 700 PLTA yang menyumbang 60% kebutuhan listrik nasional. Kami siap berbagi pengetahuan dan teknologi, termasuk sistem pumped storage dan turbin canggih," jelasnya. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian target energi bersih Indonesia sekaligus memperkuat hubungan bilateral kedua negara.