Ramadan Tanpa Marissa Haque: Ikang Fawzi Kenang Momen Berharga dan Adaptasi Keluarga
Ramadan Tanpa Marissa Haque: Ikang Fawzi Kenang Momen Berharga dan Adaptasi Keluarga
Penyanyi senior Ikang Fawzi menjalani Ramadan tahun ini dengan perasaan yang berbeda. Ramadan 2025 menjadi Ramadan pertamanya tanpa kehadiran sang istri tercinta, Marissa Haque, yang telah berpulang pada 2 Oktober 2024. Kehilangan mendalam tersebut menghadirkan kesedihan yang tak dapat dipungkiri, namun Ikang tetap teguh menjalankan ibadah puasa dengan penuh khusyuk.
Dalam wawancara eksklusif di Gedung Trans TV, Jakarta Selatan, Rabu (5/3/2025), Ikang Fawzi mengungkapkan kesedihannya. "Perubahannya sangat drastis. Sangat terasa sepi," ujarnya. Ia mengaku sangat merindukan kebersamaan berbuka puasa dan sahur bersama Marissa. Meskipun begitu, Ikang menekankan pentingnya tetap fokus beribadah dan menjalani Ramadan dengan sebaik mungkin. Dukungan dari kedua anaknya, Bella dan Chiki Fawzi, menjadi kekuatan besar bagi Ikang dalam melewati bulan suci ini.
Ketiadaan Marissa Haque menimbulkan perubahan signifikan dalam rutinitas keluarga. "Biasanya Ibu yang mengurus semuanya. Sekarang, kami bertiga saling membantu dan mendukung satu sama lain," kata Ikang. Keterlibatan Bella dan Chiki dalam mempersiapkan sahur dan berbuka puasa menjadi bukti nyata dari kebersamaan dan kekuatan keluarga di tengah duka. Mereka berusaha mengisi kekosongan yang ditinggalkan sang ibunda tercinta.
Kenangan indah Ramadan bersama Marissa tetap terukir di hati Ikang. Ia mengenang masakan khas sang istri yang selalu dinantikan saat berbuka puasa. "Masakan Ibu selalu spesial, seperti butter chicken, mashed potato, dan daging steak. Sangat dirindukan," kenangnya dengan mata berkaca- kaca. Momen mencari takjil bersama pun menjadi kenangan yang tak terlupakan. Ikang dan anak-anaknya kini berusaha untuk saling mengisi dan menciptakan momen-momen kebersamaan baru di bulan Ramadan ini, meskipun tanpa kehadiran sosok Marissa Haque yang begitu berarti.
Bella Fawzi menambahkan, “Perbedaannya sangat terasa. Dulu kami berempat, sekarang hanya bertiga. Ibu selalu yang menyiapkan sahur, sekarang kami bertiga yang melakukannya, begitu pula dengan buka puasa dan salat Tarawih.” Ia dan sang adik berupaya semaksimal mungkin untuk tetap menjaga kebersamaan keluarga dan menjalankan ibadah Ramadan dengan khidmat meskipun harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru.
Ikang Fawzi, melalui kesedihannya, memberikan gambaran tentang kekuatan keluarga dalam menghadapi kehilangan dan bagaimana pentingnya tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama di tengah cobaan hidup. Kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak orang dalam menghargai setiap momen dan kekuatan keluarga yang tak ternilai harganya.