Gubernur Bali Dorong Transformasi Pertanian dengan Teknologi Modern untuk Cegah Krisis Pangan

Denpasar – Gubernur Bali, I Wayan Koster, menekankan pentingnya adopsi teknologi pertanian modern untuk mengantisipasi ancaman krisis pangan di Pulau Dewata. Dalam Musrenbang yang digelar di Kantor Gubernur Bali, Selasa (15/4/2025), Koster meminta Dinas Pertanian setempat untuk mempelajari inovasi dari Israel, negara yang berhasil mengoptimalkan lahan kering menjadi area pertanian produktif.

"Kita tidak bisa terus bergantung pada metode konvensional. Israel membuktikan bahwa teknologi bisa mengubah keterbatasan menjadi peluang. Mereka mampu menciptakan sistem pertanian berbasis teknologi meski minim lahan subur dan air," ujar Koster. Ia mencontohkan pemanfaatan embun sebagai sumber air tanaman, sebuah terobosan yang patut diadopsi Bali.

Berikut beberapa tantangan yang dihadapi sektor pertanian Bali: - Alih fungsi lahan: Ribuan hektar sawah hilang setiap tahun akibat pembangunan fasilitas pariwisata. - Penurunan produktivitas: Surplus beras Bali turun dari 100.000 ton (2018–2023) menjadi 53.000 ton pada 2024. - Ancaman ketergantungan impor: Koster memperingatkan potensi masuknya pangan impor jika inovasi tidak segera dilakukan.

Gubernur juga mengkritik praktik mafia impor yang menurutnya menghambat kemandirian pangan nasional. "Negara agraris seperti Indonesia seharusnya tidak perlu impor bahan pangan dasar. Ini adalah permainan yang merugikan petani lokal," tegasnya. Koster mendorong langkah konkret untuk memperkuat ketahanan pangan melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri.