PLN Ungkap Keunggulan Biaya Operasional Kendaraan Hidrogen Dibanding Bensin
Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero mengungkapkan bahwa kendaraan berbahan bakar hidrogen saat ini menawarkan efisiensi biaya signifikan dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar minyak. Hal ini dimungkinkan karena ketersediaan pasokan hidrogen berlebih yang mencapai 125 ton dari produksi PLN, sehingga menekan harga operasional menjadi hanya Rp 550 per kilometer.
Berikut perbandingan biaya operasional berbagai jenis kendaraan: - Kendaraan konvensional: Rp 1.300/km - Mobil listrik (home charging): Rp 300/km - Mobil listrik (SPKLU): Rp 550/km - Kendaraan hidrogen: Rp 550/km
Pasokan hidrogen berlebih ini berasal dari beberapa sumber pembangkit listrik PLN, termasuk: 1. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) 2. Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) 3. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
"Dengan memanfaatkan kelebihan produksi hidrogen yang semula digunakan sebagai pendingin pembangkit, kami bisa menawarkan harga kompetitif untuk bahan bakar hidrogen," jelas Darmawan. Tanpa adanya pasokan berlebih, harga hidrogen diperkirakan akan mencapai Rp 1.200-Rp 1.300 per kilometer.
PLN telah menyiapkan infrastruktur pendukung berupa Hydrogen Refueling Station di kawasan Senayan, Jakarta. Pengembangan energi hidrogen ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam transisi energi menuju Net Zero Emission 2060.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menambahkan bahwa hidrogen memiliki potensi besar sebagai alternatif energi bersih. "Bahan baku hidrogen bisa berasal dari berbagai sumber termasuk batu bara, gas, dan air dengan proses berbasis Energi Baru Terbarukan," ujarnya. Pengembangan hidrogen diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor BBM yang saat ini mencapai 900.000-1 juta barel per hari dari total konsumsi 1,5 juta barel.