Fenomena Influencer China Promosikan Belanja Langsung dari Pabrik ke Konsumen AS via TikTok

Platform TikTok di Amerika Serikat (AS) kini ramai dengan konten para influencer asal China yang mengajak pengguna untuk membeli produk langsung dari pabrik di negara tersebut. Strategi ini diyakini sebagai upaya menghindari tarif impor tinggi yang diberlakukan oleh pemerintah AS.

Beberapa video yang viral menampilkan fasilitas produksi di China yang mengklaim sebagai pemasok merek-merek global ternama seperti Lululemon, Louis Vuitton, dan Nike. Para kreator konten tersebut seringkali menyertakan tautan website atau informasi kontak untuk memudahkan transaksi langsung dengan produsen.

  • Klaim Harga Lebih Murah: Salah satu kreator TikTok, @LunaSourcingChina, menunjukkan proses pembuatan legging yoga merek Lululemon dengan harga hanya USD 5-6 per buah, jauh lebih murah dibandingkan harga ritel di AS yang bisa mencapai USD 100.
  • Kontroversi Produk Asli vs Palsu: Beberapa perusahaan seperti Louis Vuitton dan Lululemon telah membantah klaim bahwa produk mereka diproduksi di China. Para ahli mencurigai ini adalah taktik produsen barang palsu untuk memanfaatkan ketegangan dagang AS-China.
  • Dampak Perang Dagang: Kebijakan tarif impor AS sebesar 145% untuk barang dari China dan pembalasan China dengan tarif 125% untuk produk AS turut memicu maraknya konten semacam ini di TikTok.

Conrad Quilty-Harper, peneliti industri barang mewah, menyatakan bahwa praktik ini merupakan bagian dari persaingan geopolitik yang lebih luas antara kedua negara. "Mereka sangat terampil memanfaatkan media sosial untuk menciptakan permintaan di pasar Barat," ujarnya.

Sementara itu, data Bea Cukai AS menunjukkan nilai barang palsu yang disita mencapai USD 1,8 miliar pada 2023, dengan China sebagai sumber utama. Fenomena ini semakin menguatkan kekhawatiran perusahaan Barat terhadap perlindungan kekayaan intelektual di era digital.