Performa Jordi Amat Menurun: Tantangan di JDT dan Timnas Indonesia
Performa Jordi Amat Menurun: Tantangan di JDT dan Timnas Indonesia
Karier Jordi Amat, bek naturalisasi Timnas Indonesia, tengah menghadapi ujian berat. Setelah bergabung dengan Johor Darul Ta'zim (JDT) dan mencuri perhatian publik Indonesia, performanya kini menunjukkan tren penurunan yang signifikan, baik di level klub maupun tim nasional. Usia 33 tahun tampaknya mulai memberikan dampak pada performa pemain alumni akademi Espanyol ini. Keputusan kontroversial Amat untuk bergabung dengan JDT setelah berkiprah di klub-klub Eropa seperti Swansea City, Real Betis, dan Rayo Vallecano, kini tengah dipertanyakan. Kekhawatiran sebagian netizen Indonesia terkait dampak negatif bermain di Liga Malaysia terhadap performanya, nampaknya mulai menjadi kenyataan.
Penampilan Amat di ajang AFC Champions League menjadi bukti nyata penurunan tersebut. Dari sembilan pertandingan JDT di kompetisi bergengsi Asia tersebut, ia hanya bermain penuh dalam dua laga, menghadapi Central Coast Mariners (Australia) dan Pohang Steelers (Korea Selatan). Dalam lima pertandingan lainnya, Amat bahkan absen karena cedera atau hanya duduk di bangku cadangan. Pada pertandingan melawan Buriram United di babak 16 besar, ia hanya bermain selama 19 menit sebagai pemain pengganti. Kontras dengan dominasi JDT di Liga Malaysia selama 11 musim terakhir, performa Amat di kancah Asia jauh dari ekspektasi. Meskipun masih menjadi pemain kunci di liga domestik, level kompetisi yang lebih rendah di Liga Malaysia dibandingkan dengan AFC Champions League semakin mempertegas rendahnya menit bermain Amat di level tertinggi Asia. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar terkait kesiapannya untuk bersaing di level internasional.
Situasi ini juga berdampak pada posisinya di Timnas Indonesia. Amat yang sempat menjadi andalan di era Shin Tae-yong, kini lebih sering duduk di bangku cadangan. Dari 10 pertandingan terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2026, ia hanya bermain dalam tiga pertandingan, tanpa satupun bermain penuh selama 90 menit. Beberapa kesalahannya dalam pertandingan melawan Filipina, Jepang, dan Irak semakin memperburuk posisinya. Dengan kehadiran pelatih baru, Patrick Kluivert, masa depan Amat di Timnas Indonesia pun menjadi tanda tanya besar. Meskipun Amat sendiri telah menyatakan harapannya untuk berkontribusi lebih di bawah asuhan Kluivert, performa yang menurun dan usia yang semakin bertambah menjadikan peluangnya untuk mendapatkan tempat utama di timnas semakin kecil.
Faktor usia, cedera, serta perbedaan level kompetisi antara Liga Malaysia dan kompetisi Asia, menjadi beberapa faktor yang mungkin berkontribusi terhadap penurunan performa Jordi Amat. Tantangan besar kini dihadapi oleh Amat untuk bisa kembali ke performa terbaiknya dan merebut kembali tempatnya baik di JDT maupun di Tim Nasional Indonesia. Ke depannya, perlu adanya evaluasi menyeluruh untuk menentukan strategi yang tepat bagi Amat agar dapat tetap berkontribusi secara maksimal.