Inisiatif Pengurangan Emisi PLTU Paiton: Dari Co-firing Biomassa hingga Teknologi CCS
PLTU Paiton menjadi sorotan dalam upaya transisi energi dengan menerapkan berbagai strategi pengurangan emisi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara aktif mendorong pembangkit listrik tenaga uap ini untuk mengadopsi teknologi ramah lingkungan, termasuk penggunaan campuran biomassa, carbon capture and storage (CCS), serta penggantian batu bara dengan amonia hijau. Langkah ini sejalan dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang menekankan pentingnya dekarbonisasi sektor energi.
Beberapa inisiatif yang telah dijalankan oleh PLTU Paiton meliputi: - Penerapan co-firing biomassa sejak 2020, dengan target mencapai 10% campuran bahan bakar dan potensi peningkatan hingga 100%. - Partisipasi dalam perdagangan karbon sebagai upaya mengurangi jejak emisi. - Eksplorasi teknologi CCS untuk menangkap dan menyimpan emisi karbon secara efektif. - Kajian penggunaan amonia hijau sebagai alternatif pengganti batu bara.
Dukungan dari berbagai pihak turut menguatkan langkah PLTU Paiton. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menyatakan apresiasinya terhadap komitmen pengelola PLTU dalam mendorong transisi energi. "PLTU Paiton telah menjadi contoh dalam memenuhi standar lingkungan dan terus berinovasi melalui program seperti Green Hydrogen Plant," ujarnya. Selain itu, PLTU ini juga dinilai memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas pasokan listrik di wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali), yang mencakup 50% kebutuhan nasional.
Penghargaan PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup selama lima tahun berturut-turut (2019–2023) semakin memperkuat posisi PLTU Paiton sebagai pelopor pembangkit listrik berwawasan lingkungan. Edward Nixon Pakpahan, Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara, menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan pengelola PLTU akan terus ditingkatkan untuk mencapai target emisi yang lebih ambisius.