Program Grab Hemat Picu Protes Pengemudi Ojol: Pendapatan Terkikis, Nasib Terancam

Jakarta – Kebijakan terbaru Grab dengan meluncurkan program Grab Hemat menuai protes dari kalangan pengemudi ojek online (ojol). Program yang digadang-gadang sebagai solusi harga terjangkau justru berdampak signifikan terhadap pendapatan harian para mitra pengemudi.

Banyak pengemudi mengeluhkan pemotongan tarif yang terjadi secara ganda, baik melalui potongan langsung per trip maupun pengurangan komisi dari aplikator. Rahmat, salah satu pengemudi, mengungkapkan bahwa setiap perjalanan menggunakan layanan Grab Hemat langsung dipotong Rp 2.000, belum termasuk potongan komisi sebesar 20%. "Penghasilan kami semakin menipis, bahkan tidak sebanding dengan biaya operasional," keluhnya.

Berikut rincian dampak yang dirasakan pengemudi: - Penurunan Pendapatan per Order: Dari sebelumnya Rp 10.400 menjadi Rp 8.500 atau lebih rendah. - Akumulasi Potongan Harian: Khusus GrabBike, potongan bisa mencapai Rp 20.000 per hari. - Efek Domino pada GrabFood: Setiap order dikenakan potongan tetap Rp 2.000.

Tyas Widyastuti, Direktur Mobilitas & Logistik Grab Indonesia, menegaskan bahwa program ini bersifat sukarela dan dapat dihentikan kapan saja. Namun, di lapangan, pengemudi merasa terjebak dalam situasi sulit: menolak program berarti kehilangan orderan, sementara bergabung justru memperparah kondisi finansial mereka.

Kiki, pengemudi lain, menambahkan bahwa pendapatannya turun hampir 30% sejak program ini diluncurkan. "Kami seperti dipaksa memilih antara bertahan dengan penghasilan minim atau menganggur," ujarnya.

Dilema ini semakin diperparah dengan ketiadaan mekanisme negosiasi yang adil antara pengemudi dan perusahaan. Banyak mitra merasa kebijakan ini diambil secara sepihak tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan mereka.