Operasional Pusat Data Nasional Tertunda, Evaluasi Keamanan Jadi Prioritas
Jakarta – Peluncuran operasional Pusat Data Nasional (PDN) di Cikarang, Jawa Barat, kembali mengalami penundaan. Meski semula dijadwalkan beroperasi penuh pada April 2025, proses evaluasi keamanan oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menjadi alasan utama tertundanya pengoperasian infrastruktur digital strategis ini.
Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, mengonfirmasi bahwa tahap pengujian sistem dan keamanan masih berlangsung intensif. "Proses evaluasi menyeluruh terhadap arsitektur keamanan PDN masih dilakukan oleh BSSN. Beberapa aspek teknis memerlukan waktu lebih untuk memastikan kesiapan optimal," jelas Nezar di Jakarta, Rabu (17/4/2025).
Berikut beberapa faktor yang memengaruhi penundaan:
- Uji Keamanan Sistem: BSSN tengah melakukan penilaian mendalam terhadap kerentanan dan ketahanan infrastruktur PDN.
- Ketersediaan Tenaga Ahli: Dibutuhkan sumber daya manusia bersertifikasi khusus untuk mengelola fitur-fitur kritis di PDN.
- Koordinasi dengan Prancis: Sebagai mitra utama proyek ini, Prancis turut terlibat dalam tahap finalisasi sebelum operasional penuh.
Meski belum beroperasi penuh, beberapa layanan berbasis PDN telah mulai diuji coba secara terbatas. "Secara bertahap, testing dan penggunaan awal PDN untuk beberapa layanan sudah dimulai," tambah Nezar.
Di sisi lain, rencana kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada Mei 2025 turut menjadi sorotan. Pertemuan bilateral antara Menteri Komunikasi dan Informatika Meutya Hafid dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri Prancis, Laurent Saint-Martin, pekan lalu semakin menguatkan spekulasi bahwa operasional PDN mungkin menunggu momen kunjungan tersebut. Kedua pihak telah menyepakati skema Provisional Hand Over (PHO) sebagai tahap awal penyerahan pengelolaan PDN kepada Pemerintah Indonesia.
"Kami sangat menghargai dukungan Prancis dalam percepatan pembangunan PDN dan peluncuran Satelit SATRIA-1 sebelumnya," ujar Meutya dalam pernyataan resminya. Laurent Saint-Martin menegaskan komitmen Prancis untuk memperluas kerja sama digital dengan Indonesia, termasuk pemanfaatan teknologi untuk peningkatan konektivitas dan kualitas hidup masyarakat kedua negara.