Dr. Boyke: Hubungan Intim di Bulan Ramadan, Prioritaskan Kualitas Bukan Kuantitas
Hubungan Intim di Bulan Ramadan: Saran dr. Boyke
Ramadan, bulan penuh berkah, tak hanya mengharuskan peningkatan ibadah spiritual, namun juga keseimbangan aspek fisik dan psikis dalam kehidupan rumah tangga. Terkait hal ini, Dr. Boyke memberikan pandangannya mengenai hubungan intim suami istri selama bulan puasa, khususnya perihal praktik 'seks kilat' atau 'quickie sex' yang belakangan ini menjadi perbincangan. Ia menekankan pentingnya mengutamakan kualitas hubungan intim daripada sekadar pemenuhan hasrat secara singkat.
Dalam wawancara baru-baru ini, Dr. Boyke secara tegas menyarankan agar pasangan suami istri meluangkan waktu khusus untuk bermesraan. Alih-alih terburu-buru, ia mendorong pendekatan yang lebih romantis dan penuh perhatian. Memilih waktu dan tempat yang tepat, misalnya di kamar tidur atau ruang keluarga, dapat meningkatkan keintiman dan menciptakan kenangan indah. Hal ini lebih penting daripada mengejar kepuasan seksual sesaat.
"Sesekali melakukan hubungan intim secara singkat mungkin bisa dilakukan sebagai tambahan, namun yang utama tetaplah proses yang lebih bermakna," jelas Dr. Boyke. Ia menyarankan agar pasangan merencanakan waktu khusus untuk berhubungan intim, misalnya sebelum waktu sahur, saat kadar testosteron pria umumnya tinggi, misalnya antara pukul 2-3 dini hari.
Lebih lanjut, Dr. Boyke mengingatkan pentingnya tiga tahapan dalam hubungan intim, yaitu foreplay, orgasme, dan afterplay. Ketiga tahapan ini berperan penting dalam mencapai kepuasan seksual yang optimal dan mempererat ikatan emosional pasangan. Melewatkan salah satu tahapan dapat mengurangi kepuasan dan manfaat kesehatan yang diperoleh dari hubungan intim.
Quickie Sex dan Risiko Kesehatan
Terkait kekhawatiran akan risiko 'quickie sex', terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu, Dr. Boyke memberikan penjelasannya. Meskipun ada anggapan bahwa seks kilat tidak baik untuk kesehatan, terutama bagi penderita GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) atau masalah lambung, Dr. Boyke menyatakan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Justru sebaliknya, ia melihat potensi manfaat dari hubungan intim, bahkan untuk mereka yang menderita penyakit tertentu.
"Bagi penderita GERD, nyeri sendi, atau bahkan pusing, hubungan intim, khususnya orgasme pada wanita dan ejakulasi pada pria, dapat memicu pelepasan endorfin yang bermanfaat untuk meredakan nyeri dan meningkatkan kesejahteraan. Endorfin memiliki efek analgesik dan mampu meningkatkan suasana hati," jelas Dr. Boyke. Namun, ia tetap menekankan pentingnya berkonsultasi dengan dokter jika memiliki kekhawatiran khusus mengenai kesehatan dan hubungan intim, terutama bagi mereka dengan kondisi medis tertentu.
Kesimpulannya, Dr. Boyke menganjurkan agar pasangan suami istri memprioritaskan kualitas waktu bersama dalam hubungan intim selama bulan Ramadan. Memilih waktu dan suasana yang tepat serta menjalani seluruh tahapan hubungan intim dengan penuh cinta dan kasih sayang akan membawa manfaat yang lebih besar dibandingkan mengejar kepuasan sesaat. Kesehatan fisik dan mental pasangan merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam menjalani ibadah puasa, termasuk dalam aspek keintiman suami istri.