Eskalasi Perang Dagang AS-China Ancam Kebijakan Moneter The Fed
Perang Dagang AS-China Mendorong Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Ketegangan perdagangan yang terus meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan China memunculkan kekhawatiran baru terkait kebijakan moneter di AS. Para ekonom memperingatkan bahwa eskalasi perang dagang ini berpotensi memaksa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate dalam beberapa bulan mendatang.
Eko Listiyanto, seorang ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menjelaskan bahwa perseteruan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini dapat memicu lonjakan inflasi. Menurutnya, jika AS dan China terus meningkatkan tarif impor sebagai bentuk pembalasan, risiko inflasi akan semakin meningkat. Dampak yang lebih luas dari situasi ini adalah potensi resesi di AS.
"Implikasinya adalah kalau inflasinya naik, suku bunga naik. Kemungkinan besar moneternya akan mengetat," ujar Eko dalam sebuah diskusi virtual.
The Fed Berada di Persimpangan Jalan
Kendati demikian, Eko memperkirakan bahwa The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan Fed Funds Rate pada level saat ini, yaitu di kisaran 4,25–4,5 persen. Alasan utamanya adalah nilai tukar dolar AS yang masih relatif lemah. Konsensus di antara para ekonom juga menunjukkan sentimen serupa. Mayoritas ekonom, sekitar 81 persen, meyakini bahwa The Fed tidak akan mengubah suku bunga pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada 7 Mei mendatang.
Namun, pandangan ini berubah untuk periode FOMC selanjutnya, dari Juni hingga Oktober 2025. Mayoritas ekonom memproyeksikan bahwa The Fed akan menaikkan Fed Funds Rate pada periode tersebut. Ketidakpastian ini mencerminkan kompleksitas situasi ekonomi global saat ini.
"Dari sisi keuangan sudah kelihatan bahwa enggak segampang itu juga (naikkan suku bunga), karena ternyata ada tekanan di dalam nilai tukar mereka. Tapi ada analisa lebih ke arah meningkat ke depannya," kata Eko.
Eskalasi Tarif Impor dan Balasan Boikot
Ketegangan dagang antara AS dan China semakin memanas dengan pemberlakuan tarif impor baru oleh AS. Pemerintah AS telah menaikkan tarif impor barang dari China hingga 245 persen, jauh lebih tinggi dari tarif sebelumnya yang sebesar 145 persen. Langkah ini merupakan respons terhadap tindakan balasan dari Beijing.
Gedung Putih merilis pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa China kini menghadapi tarif hingga 245 persen atas impor ke Amerika Serikat sebagai akibat dari tindakan pembalasannya.
Sebelumnya, Pemerintah China telah memboikot produk pesawat dari Boeing, termasuk suku cadangnya, sebagai balasan terhadap tarif impor sebesar 145 persen yang diberlakukan sejak era Presiden Donald Trump terhadap barang-barang dari China.
Situasi ini menunjukkan bahwa perang dagang antara AS dan China semakin intensif dan dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap ekonomi global. Kebijakan moneter The Fed menjadi salah satu aspek yang paling terpengaruh oleh ketegangan ini.