Evaluasi Sistem Logistik Nasional Pasca Kemacetan Tanjung Priok: Perlunya Transformasi Tata Kelola Pelabuhan

Kemacetan parah yang melanda Pelabuhan Tanjung Priok setelah libur Lebaran 2025 menjadi cermin bagi efektivitas sistem logistik nasional. Antrean truk logistik yang mengular hingga delapan kilometer bukan hanya mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan, tetapi juga menyoroti permasalahan mendasar dalam tata kelola logistik di Indonesia.

Lonjakan volume kendaraan logistik pasca-libur Idul Fitri menjadi pemicu utama kemacetan tersebut. Data menunjukkan peningkatan signifikan dari 2.500 unit truk per hari menjadi lebih dari 4.000 unit. Pengamat maritim dari IKAL Strategic Center (ISC), Marcellus Hakeng Jayawibawa, menilai bahwa peningkatan volume ini tidak sejalan dengan manajemen arus masuk yang adaptif. Meskipun Pelindo telah menerapkan sistem digital, efektivitas pembatasan dan pengaturan gate pass berbasis waktu secara real-time masih belum optimal dalam menangani lonjakan tersebut.

Hakeng menegaskan bahwa masalah kemacetan ini bukan sekadar persoalan musiman, melainkan indikasi kegentingan sistem logistik nasional. Ia menyoroti lemahnya regulasi mikro dan kurangnya koordinasi lintas sektor sebagai akar permasalahan. Transformasi tata kelola pelabuhan menjadi sistem yang prediktif dan berbasis data menjadi krusial untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang mungkin timbul.

Data aktivitas peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok pada kuartal pertama 2025 menunjukkan peningkatan sebesar 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai 1,88 juta TEUs. Namun, peningkatan volume ini tidak diimbangi dengan sistem penerimaan dan pengeluaran kontainer yang memadai. Ketidakakuratan dalam sistem stacking di container yard memperpanjang waktu sandar kapal, menyebabkan penumpukan dan antrean panjang truk logistik.

Implementasi sistem seperti Terminal Operating System (TOS), autogate, dan jadwal gate pass berbasis waktu oleh Pelindo belum sepenuhnya efektif karena rendahnya tingkat kepatuhan dari operator logistik serta kurangnya integrasi data antara pelabuhan, penyedia jasa truk, dan pengelola lalu lintas. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan kemacetan lebih kompleks daripada sekadar pengelolaan waktu masuk dan keluar kendaraan.

Perbandingan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia menyoroti persoalan klasik yang masih menghantui Indonesia, seperti antrean kendaraan yang panjang, tumpukan kontainer, serta keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM).

Untuk mengatasi permasalahan ini, Hakeng merekomendasikan beberapa langkah strategis, antara lain:

  • Penerapan sistem pre-booking gate time berbasis data real-time
  • Kajian pengembangan digital twin pelabuhan untuk simulasi beban harian
  • Peningkatan koordinasi antara Pelindo, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas), dan asosiasi logistik

Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem logistik nasional, serta menghindari terulangnya kemacetan serupa di masa mendatang.