IHSG Terkoreksi Tipis di Awal Perdagangan, Rupiah Menguat Tipis di Tengah Sentimen Global Campuran

IHSG Terkoreksi Tipis, Rupiah Menguat Tipis

Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka dengan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada Jumat, 7 Maret 2025. IHSG tercatat turun tipis 0,20 persen atau 13,17 poin, berada di level 6.604 pada pukul 09.02 WIB. Penurunan ini terjadi setelah penutupan sebelumnya di angka 6.617,84. Meskipun demikian, aktivitas perdagangan terbilang cukup tinggi dengan nilai transaksi mencapai Rp 577,70 miliar dan volume 809,27 juta saham. Dari total saham yang diperdagangkan, 150 saham berada di zona hijau, 158 saham di zona merah, dan 197 saham stagnan. Analis teknikal memperkirakan potensi penguatan IHSG yang terbatas, dengan support dan resistance di level 6.530–6.750. Namun, potensi koreksi tetap terbuka, terutama jika IHSG berada di bawah level 6.912.

Pergerakan IHSG ini selaras dengan tren negatif di beberapa bursa saham Asia. Strait Times mencatat penurunan 0,03 persen (1,16 poin) di level 3.915,90; Shanghai Composite turun 0,24 persen (7,97 poin) ke level 3.373,13; Nikkei 225 mengalami penurunan signifikan sebesar 1,67 persen (631 poin) ke level 37.084; dan Hang Seng juga melemah 1,03 persen (250,71 poin) ke level 24.119. Sentimen global yang cenderung negatif ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan IHSG.

Rupiah Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Global

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot menunjukkan penguatan tipis. Pada pukul 09.16 WIB, rupiah berada di level Rp 16.343,5 per dolar AS, menguat 4 poin (0,02 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.347,5 per dolar AS. Penguatan ini terjadi meskipun indeks dolar AS masih berada di level 104, bahkan sempat menyentuh 103,7 pada perdagangan sebelumnya. Keputusan Presiden Amerika Serikat untuk menunda kenaikan tarif impor untuk produk Meksiko dan Kanada hingga 2 April turut memengaruhi pelemahan dolar AS. Namun, kekhawatiran akan perlambatan ekonomi AS akibat kenaikan tarif impor tetap menjadi sentimen negatif.

Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, menjelaskan bahwa setelah konsolidasi di area support sekitar 16.260-16.280, terdapat potensi pelemahan rupiah ke arah 16.360-16.380. Ia menambahkan bahwa isu kenaikan tarif yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global tetap menjadi risiko bagi pergerakan harga aset berisiko, termasuk rupiah. Pemerintah Indonesia juga tengah menunggu rilis data APBN Januari 2025 yang diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi ekonomi domestik dan memengaruhi keputusan investor, terutama terkait Surat Berharga Negara (SBN).

Analisis dan Kesimpulan

Secara keseluruhan, pergerakan IHSG dan rupiah pada awal perdagangan Jumat menunjukkan dinamika yang dipengaruhi oleh faktor domestik dan global. Meskipun IHSG mengalami koreksi tipis dan beberapa bursa saham Asia juga menunjukkan tren negatif, penguatan tipis rupiah mengindikasikan adanya faktor penyeimbang. Ketidakpastian ekonomi global dan pengumuman data APBN Januari 2025 akan menjadi faktor penentu bagi pergerakan pasar keuangan Indonesia ke depannya. Investor diharapkan untuk tetap waspada dan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum mengambil keputusan investasi.