Harga Ayam Anjlok, Peternak Unggas Merugi Besar Akibat Kelebihan Pasokan
Anjloknya harga ayam hidup (livebird) dalam beberapa pekan terakhir telah menyebabkan kerugian besar bagi para peternak ayam di berbagai daerah. Penurunan harga yang signifikan ini bahkan berada jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP), sehingga mengancam kelangsungan usaha para peternak.
Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, mengungkapkan bahwa harga ayam hidup saat ini berkisar antara Rp 11.500 hingga Rp 12.000 per kilogram. Sementara itu, HPP yang harus ditanggung peternak mencapai Rp 17.500 per kilogram. Kondisi ini mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi peternak.
"Ini bukan lagi soal penurunan margin keuntungan, tetapi murni kerugian. Jika HPP Rp 17.500 dan dijual Rp 12.000, maka rugi Rp 5.500 per kilogram. Jika berat ayam 2 kilogram, kerugian mencapai Rp 11.000. Bayangkan jika peternak memiliki 10.000 kilogram ayam, tinggal dikalikan saja. Ini merupakan pukulan berat bagi kami," ujar Sugeng.
Peraturan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 5 Tahun 2022 sebenarnya telah menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam hidup di tingkat produsen sebesar Rp 21.000 hingga Rp 23.000 per kilogram. Namun, kenyataan di lapangan jauh berbeda.
Sugeng menjelaskan bahwa penurunan harga ini disebabkan oleh oversupply atau kelebihan pasokan ayam di pasar. Prediksi mengenai oversupply sebenarnya sudah muncul sejak awal. Setelah periode Lebaran, daya beli masyarakat cenderung menurun, sehingga permintaan terhadap ayam juga melemah. Akibatnya, pasar tidak mampu menyerap seluruh produksi ayam yang ada.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada harga ayam hidup, tetapi juga memengaruhi harga karkas ayam dan telur. Meskipun demikian, penurunan harga karkas ayam dan telur tidak separah penurunan harga ayam hidup.
"Harga karkas memang ikut turun, tetapi tidak seekstrem ayam hidup. Harga telur juga sedikit terpengaruh. Oleh karena itu, penanganan untuk pelaku usaha besar, menengah, dan kecil tentu berbeda-beda," kata Sugeng.
GOPAN telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian untuk mencari solusi atas permasalahan ini. Sugeng berharap pemerintah dapat membantu menyerap ayam hidup dan telur dari peternak. Salah satu usulan GOPAN adalah melibatkan peternak dan pedagang ayam dalam program pencegahan stunting. Selain itu, GOPAN juga mendorong penyerapan ayam melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berikut adalah beberapa poin penting yang menjadi perhatian GOPAN:
- Penyerapan Ayam oleh Pemerintah: Pemerintah diharapkan dapat membeli ayam hidup dan telur dari peternak untuk membantu mengurangi kelebihan pasokan di pasar.
- Keterlibatan dalam Program Stunting: Melibatkan peternak dan pedagang ayam dalam program pencegahan stunting dapat membantu meningkatkan permintaan ayam dan menstabilkan harga.
- Dukungan Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Program MBG diharapkan dapat meningkatkan penyerapan ayam dan telur, sehingga membantu peternak mengatasi kerugian.
Diharapkan dengan adanya intervensi dari pemerintah dan dukungan dari berbagai pihak, permasalahan anjloknya harga ayam dapat segera teratasi dan peternak ayam dapat kembali menjalankan usahanya dengan baik.