Refleksi Emansipasi: Cinta Laura, Happy Salma, dan Sederet Artis Bacakan Surat Kartini dalam Pementasan Memukau
Sebuah panggung sederhana di Museum Nasional Indonesia menjadi saksi bisu perayaan pemikiran Raden Ajeng Kartini yang abadi. Pertunjukan bertajuk "Terbitlah Terang" menghadirkan kolaborasi apik dari berbagai aktor dan aktris ternama, menghidupkan kembali surat-surat Kartini yang menggugah. Ratna Riantiarno membuka pertunjukan sebagai narator, membawa penonton kembali ke tahun 1911, saat Kartini menuangkan gagasannya dalam surat-surat kepada sahabatnya di Belanda. Surat-surat yang awalnya sederhana, tentang budi dan akal, kemudian menjelma menjadi pemikiran yang menginspirasi dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Marsha Timothy dan Christine Hakim hadir dengan interpretasi mendalam tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan, sebuah gagasan yang diperjuangkan Kartini. Chelsea Islan, Cinta Laura, Lutesha, dan Bagus Ade Saputra kemudian bergantian membacakan kutipan-kutipan surat Kartini yang sarat akan semangat emansipasi.
Cinta Laura membacakan kalimat yang menyentuh tentang kegagalan dan aib bagi perempuan yang belum menikah, sebuah realita sosial yang ingin diubah oleh Kartini. Maudy Ayunda dan Reza Rahadian turut menyumbangkan suara mereka, mengkritisi isu ekonomi rakyat dan lingkungan, isu-isu yang relevan dengan pemikiran Kartini. Puncak pementasan ditutup oleh Happy Salma, pendiri Titimangsa, dengan kalimat puitis yang menggambarkan harapan dan semangat Kartini: "Sehabis gelap gulita, hadir lagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam. Habis gelap, terbitlah terang."
Pementasan ini bukan hanya sekadar pembacaan surat, tetapi sebuah refleksi atas pemikiran Kartini yang masih relevan hingga saat ini. Happy Salma mengungkapkan bahwa pementasan ini adalah hasil kolaborasi berbagai pelaku seni Tanah Air yang ingin menghidupkan kembali gagasan Kartini tentang pendidikan, kesetaraan, dan peran serta laki-laki dan perempuan dalam membangun bangsa.
Tim Titimangsa telah menyiapkan fragmen-fragmen surat Kartini sejak lama, melakukan riset dan memilih surat-surat yang paling relevan dengan kondisi saat ini. Surat-surat yang dibacakan dalam pementasan ini diambil dari buku "Panggil Aku Kartini Saja" karya Pramoedya Ananta Toer dan buku "Kartini: Kumpulan Surat-surat 1899-1904" karya Wardinam Djoyonegoro.
Surat pertama Kartini kepada Estelle (Stella) Zeehandelaar, seorang aktivis feminisme di Belanda, menjadi tonggak awal korespondensi yang kemudian dikenal luas sebagai awal mula pemikiran emansipasi perempuan Indonesia. Pementasan ini menjadi pengingat akan pentingnya terus melanjutkan perjuangan Kartini dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi semua.