Perjuangan Riwayati: Potret Keteguhan di Tengah Sepi Jakarta

Di tengah gemerlap Jakarta, tersembunyi kisah seorang perempuan bernama Riwayati, yang akrab disapa Bude oleh tetangganya, yang berjuang menghadapi senjakala hidupnya seorang diri. Di usia 67 tahun, ia bukan menikmati masa pensiun, melainkan terus berjuang demi sesuap nasi dan kelangsungan hidup. Kisahnya bermula ketika sang suami meninggal dunia pada tahun 2009, meninggalkan utang biaya pengobatan dan dua anak bungsu yang masih bersekolah.

Kehilangan suami menjadi pukulan berat bagi Riwayati. Beban ekonomi yang semula ditanggung berdua kini harus dipikul sendiri. Dengan semangat pantang menyerah, ia mulai mencari pekerjaan. Pengalaman sebagai kondektur bus malam di Surabaya menjadi modal berharga untuk menghadapi kerasnya kehidupan Jakarta. Ia menyusuri perumahan, menawarkan jasa kepada teman-teman lamanya. Berbekal cucu yang masih bayi, Riwayati berjalan kaki dari rumah ke rumah, berharap ada yang memberinya pekerjaan. Keadaan ekonomi sangat sulit, seringkali ia tidak memiliki uang untuk membeli makanan bagi cucunya. Namun, ia tidak menyerah, terus berusaha mencari nafkah.

Titik terang muncul ketika seorang teman yang berprofesi sebagai bidan rumahan menawarkan pekerjaan. Riwayati bekerja di sana selama tiga tahun, membantu mengurus pasien, memasak, dan menyiapkan makanan. Pekerjaan ini menjadi sumber penghasilan pertama setelah kepergian suaminya. Namun, seiring berjalannya waktu, kebutuhan hidup semakin meningkat. Riwayati kemudian memutuskan untuk mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Pada tahun 2012, ia mencoba peruntungan sebagai juru masak di sebuah foodcourt. Di sana, ia belajar berbagai macam masakan, mulai dari masakan Jepang hingga makanan kekinian. Pengalaman ini membuka wawasannya dan menambah keterampilan memasaknya.

Setelah bekerja di foodcourt, Riwayati mendapat tawaran bekerja di sebuah usaha katering. Di dapur kecil katering tersebut, ia menghabiskan beberapa tahun hidupnya, perlahan menata kembali kehidupannya. Namun, cobaan hidup tidak berhenti sampai di situ. Kedua anak bungsunya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena keterbatasan biaya. Riwayati harus merelakan impian anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik.

Usia yang semakin bertambah membuat kondisi fisik Riwayati menurun. Penyakit pengapuran di kakinya membuatnya kesulitan berjalan. Ia tidak lagi mampu bekerja penuh waktu sebagai juru masak. Kini, ia hanya bekerja sebagai pekerja lepas, memasak jika ada panggilan. Penghasilannya tidak menentu, kadang ada panggilan, kadang tidak. Untuk menambah penghasilan, Riwayati juga berjualan makanan kecil di depan rumah kontrakannya. Namun, dagangannya tidak selalu laku. Kadang, ia hanya mendapatkan uang beberapa ribu rupiah saja.

Meski demikian, Riwayati tidak pernah menyerah. Ia tetap membuka lapaknya setiap pagi, berharap ada rezeki yang datang. Baginya, yang terpenting adalah bisa membayar kontrakan dan listrik. Ia tidak ingin merepotkan anak-anaknya yang sudah memiliki keluarga masing-masing. Riwayati lebih memilih bekerja sendiri daripada meminta bantuan kepada orang lain.

Hari-hari Riwayati kini lebih banyak dihabiskan seorang diri di kontrakan sederhana. Anak-anaknya sudah dewasa dan tinggal terpisah. Kesepian seringkali menghantuinya, terutama saat ia sakit. Namun, dari kesunyian itulah, Riwayati menemukan kekuatan. Ia mendekatkan diri kepada Tuhan, melakukan salat dan zikir. Ia percaya bahwa Tuhan selalu ada untuknya.

Riwayati mungkin bukan Kartini yang dikenal banyak orang. Ia tidak menulis surat-surat inspiratif atau berpidato tentang emansipasi wanita. Namun, dalam kesederhanaannya, ia adalah Kartini masa kini. Ia membuktikan bahwa perempuan bisa berdiri sendiri, tegar menghadapi cobaan hidup, dan tetap bersyukur dalam segala keadaan. Kisah Riwayati adalah potret keteguhan seorang perempuan di tengah kerasnya kehidupan Jakarta.

Riwayat hidup Riwayati mengajarkan bahwa:

  • Keteguhan hati adalah kunci untuk bertahan hidup.
  • Kasih seorang ibu tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
  • Kebersyukuran adalah sumber kebahagiaan.
  • Perempuan bisa patah, tapi tidak pernah benar-benar runtuh.

Ia tetap menjajakan dagangan kecil di depan rumah kontrakan meski sepi pembeli serta menyambut panggilan kerja dari ibu bos ketering dengan penuh syukur. Bude Riwayati tak menyerah dan tetap berdiri tegar. Di usianya yang senja, Bude Riwayati tetap menyalakan lentera kecil dalam bentuk keberanian, keteguhan hati, dan kesetiaan pada hidup yang tak selalu berpihak.