Paus Fransiskus Wafat: Seruan Damai Terakhir dan Wasiat Kesederhanaan
Dunia berduka atas kepergian Paus Fransiskus, pemimpin spiritual bagi umat Katolik sedunia dan Kepala Negara Vatikan. Paus menghembuskan nafas terakhir pada usia 88 tahun, sehari setelah tampil di hadapan publik di Lapangan Santo Petrus pada perayaan Paskah, Minggu (20/4/2025). Berita duka ini disampaikan oleh Kardinal Kevin Farrell melalui pernyataan resmi Vatikan yang disiarkan melalui Telegram.
Sebelum wafat, Paus Fransiskus, yang dikenal dengan perhatiannya terhadap isu-isu global, menyampaikan seruan mendesak untuk gencatan senjata segera di Gaza. Pesan tersebut disampaikan dari balkon utama Basilika Santo Petrus, saat perayaan Paskah. Walaupun tidak dapat memimpin Misa Paskah secara langsung atas saran dokter, pesan Urbi et Orbi-nya dibacakan oleh seorang ajudan. Dalam pesannya, Paus menggambarkan situasi di Gaza sebagai tragedi yang memilukan, menyerukan pembebasan sandera yang tersisa, dan mengutuk peningkatan antisemitisme di berbagai belahan dunia. Paus Fransiskus menyatakan solidaritasnya dengan penderitaan yang dialami baik oleh rakyat Israel maupun Palestina. Ia mendesak pihak-pihak yang berkonflik untuk menghentikan permusuhan, membebaskan para sandera, dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan perdamaian.
Selain pesan perdamaian, Paus Fransiskus juga meninggalkan wasiat mengenai upacara pemakamannya. Beberapa bulan sebelum wafat, ia menyampaikan keinginannya agar dimakamkan secara sederhana, menolak tradisi pemakaman Paus yang mewah dengan tiga peti jenazah. Sesuai dengan ritus resmi Vatikan yang diterbitkan pada November 2024, Paus Fransiskus hanya menginginkan satu peti dari kayu sederhana berlapis seng. Jenazahnya tidak akan disemayamkan di atas catafalque tinggi di Basilika Santo Petrus, melainkan di dalam peti dengan tutup terbuka agar umat dapat memberikan penghormatan terakhir.
Lebih lanjut, Paus memilih untuk dimakamkan di luar Vatikan, tepatnya di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma. Keputusan ini menjadikannya Paus pertama dalam lebih dari satu abad yang tidak dimakamkan di Basilika Santo Petrus. Paus Fransiskus pernah menyatakan bahwa Santa Maria Maggiore memiliki makna mendalam baginya. Meskipun tujuh Paus lain pernah dimakamkan di basilika tersebut, Paus Fransiskus adalah Paus pertama sejak Leo XIII pada tahun 1903 yang memilih lokasi pemakaman di luar Vatikan.
Wafatnya Paus Fransiskus telah memicu ucapan belasungkawa dari para pemimpin dunia. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenang Paus sebagai sosok pembawa harapan bagi kaum miskin. Presiden RI Prabowo Subianto juga menyampaikan duka mendalam, mengenang kunjungan Paus ke Jakarta sebagai momen yang sangat bermakna. Ucapan duka juga datang dari berbagai tokoh politik dunia, termasuk Calon Kanselir Jerman Friedrich Merz, PM Belanda Dick Schoof, PM Italia Giorgia Meloni, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan PM India Narendra Modi. Bahkan, pemerintah Iran dan Presiden Israel Isaac Herzog juga turut menyampaikan belasungkawa, menunjukkan dampak global dari kepemimpinan Paus Fransiskus.
Berikut adalah poin-poin penting yang perlu diperhatikan:
- Seruan Gencatan Senjata: Pesan terakhir Paus Fransiskus adalah seruan untuk gencatan senjata di Gaza, menunjukkan kepeduliannya terhadap konflik dan penderitaan di wilayah tersebut.
- Wasiat Kesederhanaan: Paus Fransiskus meninggalkan wasiat untuk dimakamkan secara sederhana, menolak tradisi pemakaman mewah dan memilih peti jenazah sederhana serta lokasi pemakaman di luar Vatikan.
- Ucapan Belasungkawa Global: Wafatnya Paus Fransiskus telah memicu ucapan belasungkawa dari para pemimpin dunia, menunjukkan dampak global dari kepemimpinannya dan penghormatan yang diberikan kepadanya.
Berikut adalah daftar beberapa tokoh yang memberikan ucapan belasungkawa:
- Presiden Prancis Emmanuel Macron
- Presiden RI Prabowo Subianto
- Calon Kanselir Jerman Friedrich Merz
- PM Belanda Dick Schoof
- PM Italia Giorgia Meloni
- Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen
- PM India Narendra Modi
- Presiden Israel Isaac Herzog