Trump Redam Ketegangan dengan Powell, Pasar Global Bereaksi Positif
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meralat spekulasi pemecatan terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Pernyataan ini sontak meredam gejolak di pasar keuangan global yang sebelumnya dipicu oleh kritikan pedas Trump terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Sebelumnya, kekhawatiran pasar meningkat tajam setelah Trump berulang kali menyerang Powell terkait kebijakan suku bunga yang dianggapnya kurang responsif. Serangan ini memicu penurunan nilai saham, obligasi, dan mata uang dolar AS. Namun, dalam pernyataan terbarunya, Trump menegaskan tidak memiliki niat untuk memberhentikan Powell dari jabatannya.
"Saya tidak berniat memecatnya," ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih, seraya menambahkan harapannya agar Powell lebih proaktif dalam menurunkan suku bunga. Pernyataan ini segera disambut positif oleh pelaku pasar. Indeks saham berjangka di Wall Street melonjak hampir 2% setelah perdagangan dibuka kembali pada Selasa malam.
Selain meredam ketegangan dengan The Fed, Trump juga menyampaikan optimisme terkait negosiasi dagang dengan China. Ia meyakini bahwa kesepakatan yang akan datang dapat secara signifikan mengurangi tarif impor barang-barang China. Pernyataan ini semakin memperkuat sentimen positif di kalangan investor.
Kombinasi antara kebijakan tarif yang diterapkan Trump dan kritiknya terhadap Powell telah menciptakan ketidakpastian di pasar, mendorong aksi jual aset-aset AS. Ancaman pemecatan Powell, yang diungkapkan melalui media sosial, dianggap sebagai tindakan yang dapat mengganggu independensi The Fed, lembaga sentral yang dianggap krusial bagi stabilitas keuangan global.
Meskipun telah meredam ancaman pemecatan, Trump tetap vokal dalam mengkritik kebijakan suku bunga The Fed. Ia berpendapat bahwa penurunan suku bunga saat ini sangat diperlukan dan mendesak Powell untuk bertindak lebih cepat.
Ketegangan antara Trump dan Powell bermula sejak awal masa jabatan Trump. Meskipun Trump menunjuk Powell sebagai Ketua The Fed, ia kemudian merasa frustrasi dengan kebijakan kenaikan suku bunga yang diterapkan. Pada saat itu, Trump bahkan sempat mempertimbangkan untuk memecat Powell, namun berhasil diyakinkan oleh para penasihatnya.
Status hukum terkait pemecatan Ketua The Fed masih menjadi perdebatan. Powell sendiri berpendapat bahwa Undang-Undang Federal Reserve tahun 1913 tidak memberikan wewenang kepada Presiden untuk memberhentikannya. Trump sebelumnya menyatakan bahwa jika ia menginginkan Powell keluar, prosesnya akan berlangsung sangat cepat.
The Fed telah menurunkan suku bunga sebesar satu poin persentase pada akhir tahun lalu, menjadi 4,25% hingga 4,50%. Namun, suku bunga tersebut belum berubah dalam dua pertemuan kebijakan terakhir sejak Trump kembali menjabat. Pertemuan The Fed berikutnya dijadwalkan dalam dua minggu mendatang.
Para pembuat kebijakan The Fed juga menaruh perhatian pada potensi dampak inflasi dari tarif impor yang diterapkan Trump. Mereka khawatir bahwa tarif tersebut dapat menghambat upaya mereka untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.
- Indeks saham berjangka di Wall Street melonjak hampir 2% setelah perdagangan dibuka kembali pada Selasa malam.
- Trump berpendapat bahwa penurunan suku bunga saat ini sangat diperlukan dan mendesak Powell untuk bertindak lebih cepat.
- Pertemuan The Fed berikutnya dijadwalkan dalam dua minggu mendatang.