Kampus dan Krisis Moral: Ketika Intelektualitas Gagal Melindungi

Ironi Dunia Akademik: Ketika Ilmu Pengetahuan Tak Mampu Membendung Kejahatan Seksual

Kisah Jesse dan Zibby dalam film Liberal Arts (2012) menyajikan kontras antara kematangan dan ketidakdewasaan, etika dan hasrat. Jesse, seorang pria dewasa, menolak ajakan intim Zibby, seorang mahasiswi muda, karena menyadari ketidaksetaraan usia dan potensi penyalahgunaan kekuasaan. Sayangnya, realitas kampus seringkali jauh dari ideal ini. Lembaga pendidikan, yang seharusnya menjadi benteng etika dan moral, justru menjadi tempat subur bagi berbagai bentuk kekerasan seksual.

Kasus demi kasus mencoreng citra kampus sebagai ruang aman. Seorang dokter residen di Universitas Padjadjaran tega memperkosa keluarga pasiennya, memanfaatkan obat penenang untuk melumpuhkan korban. Di Universitas Gadjah Mada (UGM), seorang dosen farmasi dipecat karena terbukti melakukan kekerasan seksual terhadap mahasiswinya. Bahkan, rektor Universitas Pancasila dilaporkan atas dugaan pelecehan seksual oleh staf perempuan.

Berita-berita ini bukan sekadar insiden terpisah, melainkan cerminan dari sistem yang gagal melindungi. Kekerasan seksual seringkali tersembunyi di balik fasad intelektualitas, dalam diskusi bimbingan, pertukaran tulisan, atau pujian yang berlebihan. Kekuasaan dosen tidak hanya terletak pada gelar atau nilai, tetapi juga pada pengaruh dan citra yang mereka miliki. Kampus, yang seharusnya memupuk keberanian berpikir kritis, justru menjadi tempat yang membungkam korban.

Dalam Liberal Arts, kita belajar bahwa relasi emosional, betapa pun intelektualnya, harus dilandasi etika. Kedalaman diskusi tidak dapat membenarkan ketimpangan usia dan kekuasaan. Namun, banyak mahasiswa tidak memiliki ruang untuk menolak, karena di hadapan mereka bukan hanya pria, tetapi dosen, pembimbing, profesor yang memegang kendali atas penilaian dan masa depan akademik mereka.

Ironi terbesar adalah ketika kekerasan dibungkus dengan kedok keintiman intelektual. Pelaku tidak selalu bertindak kasar. Mereka bisa mengajak diskusi, memuji makalah, atau bahkan mengirimkan puisi. Namun, di balik semua itu, tersembunyi motif yang mengeksploitasi relasi yang tidak setara. Korban seringkali sulit mengenali bahaya ini pada awalnya.

Vaclav Havel mengingatkan bahwa keselamatan dunia terletak pada hati manusia, pada kemampuan untuk merenung, menahan diri, dan bertanggung jawab. Pesan serupa disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, yang menekankan pentingnya menjaga lisan dan perbuatan, terutama dalam relasi yang rentan terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Kampus seharusnya menjadi penjaga nilai-nilai ini, tempat relasi dosen dan mahasiswa dibangun atas dasar kepercayaan, bukan eksploitasi. Ini adalah ajakan untuk merefleksikan kembali dunia akademik, yang meskipun tampak cerdas dan bermartabat, dapat menyembunyikan kekerasan yang sunyi. Intelektualitas tanpa keberadaban hanyalah kedok dari hasrat yang tak terkendali.

Pada akhirnya, pendidikan sejati harus disertai dengan keselamatan. Dan tidak akan ada keselamatan jika yang lemah terus dibungkam oleh mereka yang mengaku paling intelek dan berilmu.