Trauma Mendalam: Kisah Pilu Mantan Pemain Sirkus OCI Mengungkap Penyiksaan di Taman Safari

Mantan Pemain Sirkus OCI Ungkap Kekerasan Fisik dan Mental di Taman Safari

Jakarta - Fifi Nur Hidayah, seorang mantan pemain sirkus Oriental Circus Indonesia (OCI), dengan berlinang air mata menceritakan pengalaman traumatis yang dialaminya selama bekerja di Taman Safari Indonesia. Di hadapan Komisi VIII DPR RI, Fifi mengungkapkan berbagai bentuk kekerasan fisik dan mental yang ia alami sejak usia dini.

Fifi mengaku tidak mengetahui secara pasti usia berapa ia mulai dilatih menjadi pemain sirkus. Ia hanya ingat bahwa sejak usia sekitar dua tahun, ia sudah dilatih di sebuah rumah di Pondok Indah oleh orang-orang dari OCI. Empat tahun kemudian, ia dibawa ke Oriental Circus Indonesia dan terus dilatih untuk berbagai pertunjukan sirkus.

Kekerasan fisik, seperti pukulan rotan dan tendangan, menjadi bagian dari kesehariannya. "Saya masih sangat muda saat itu, di bawah 10 tahun, dan saya mendapat kekerasan jika saya tidak bisa melakukan latihan dengan benar. Dipukul, ditendang, dirotan, itu sudah biasa bagi kami," ujarnya dengan nada getir.

Penyiksaan yang lebih parah terjadi ketika Fifi dipindahkan ke Taman Safari Indonesia saat berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Di sana, ia mengalami kekerasan yang lebih intens. Karena tidak tahan dengan perlakuan tersebut, Fifi memutuskan untuk melarikan diri, namun usahanya gagal. Ia tertangkap dan dikembalikan ke Taman Safari.

Setelah ditangkap, Fifi mengalami siksaan yang lebih berat. Ia dipukuli, dimaki-maki, dan bahkan disetrum dengan alat kejut yang digunakan untuk gajah. Akibatnya, ia mengalami kejang-kejang dan tidak sadarkan diri. "Saya disetrum sampai lemas, sampai ke kelamin saya. Saya jatuh, saya lemas," kenangnya.

Tidak hanya itu, Fifi juga dipasung selama dua minggu sebagai hukuman atas usahanya melarikan diri. Setelah dibebaskan dari pasungan, ia dipaksa untuk kembali berlatih seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.

Akhirnya, pada tahun 1997, Fifi berhasil melarikan diri dari Taman Safari Indonesia. Ia kemudian dibawa ke Semarang, dinikahkan, dan akhirnya memberanikan diri untuk melaporkan kasusnya ke Komnas HAM.

Kisah Fifi ini menjadi bukti nyata bahwa kekerasan dan eksploitasi terhadap anak-anak masih terjadi di lingkungan sirkus. Ia berharap agar pihak berwenang dapat mengambil tindakan tegas untuk mencegah kejadian serupa di masa depan dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi anak-anak yang bekerja di industri hiburan.

Berikut adalah poin-poin penting dalam cerita Fifi:

  • Perekrutan Usia Dini: Fifi direkrut menjadi pemain sirkus sejak usia sangat muda, sekitar 2 tahun.
  • Kekerasan Fisik: Fifi mengalami kekerasan fisik yang berat, termasuk pukulan, tendangan, dan setruman listrik.
  • Kekerasan Mental: Fifi mengalami kekerasan mental, seperti makian dan pasungan.
  • Upaya Melarikan Diri: Fifi mencoba melarikan diri dari Taman Safari Indonesia, namun gagal dan dihukum.
  • Pelaporan ke Komnas HAM: Fifi akhirnya melaporkan kasusnya ke Komnas HAM setelah berhasil melarikan diri.

Kisah pilu Fifi Nur Hidayah menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan dan eksploitasi.