Duka di Pesisir Selatan: Warga Gotong Royong Seberangkan Jenazah Akibat Jembatan Penghubung Terputus
Nagari Duku Berduka: Akses Terputus, Warga Gotong Royong Seberangkan Jenazah
Kabar duka menyelimuti warga Nagari Duku, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Sebuah pemandangan mengharukan sekaligus memprihatinkan terjadi saat prosesi pemakaman salah seorang warga. Jembatan yang menjadi akses utama menuju pemakaman terputus akibat terjangan banjir sejak Maret 2024, memaksa warga untuk bergotong royong menyeberangkan jenazah melalui sungai.
Peristiwa ini terjadi pada hari Minggu, 20 April 2025. Warga yang meninggal dunia harus dimakamkan di seberang sungai pada hari berikutnya, Senin, 21 April 2025. Kondisi ini sontak membuat prosesi pemakaman menjadi lebih sulit dan membutuhkan perjuangan ekstra dari para pelayat.
Menurut penuturan Pendi (35), seorang warga setempat, ini adalah kali pertama warga yang meninggal harus dimakamkan di seberang sungai sejak jembatan tersebut putus. Padahal, di seberang sungai tersebut terdapat area pemakaman umum (pandam kuburan) serta lahan pertanian milik warga.
Perjuangan Menyeberangkan Jenazah: Simbol Solidaritas dan Keprihatinan
Sejak jembatan ambruk, warga terpaksa mengandalkan sampan sebagai satu-satunya alat transportasi untuk menyeberangi sungai. Namun, menggunakan sampan untuk mengangkut jenazah tentu bukan pilihan yang ideal. Dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat, warga memutuskan untuk menggotong keranda jenazah melewati sungai.
"Saat ada warga yang meninggal, kami harus mengangkut jenazah melewati sungai. Beruntung waktu itu airnya tidak dalam, hanya setinggi pinggang," ungkap Pendi, menggambarkan kondisi saat prosesi pemakaman berlangsung. Meskipun demikian, risiko tetap ada, dan warga harus ekstra hati-hati menjaga agar jenazah tetap terhormat selama proses penyeberangan.
Aksi heroik warga ini terekam dalam sebuah video singkat berdurasi 14 detik yang kemudian viral di media sosial. Video tersebut memperlihatkan sejumlah warga dengan bahu membahu mengangkat keranda jenazah menyeberangi sungai yang lebarnya diperkirakan mencapai 20 meter. Video tersebut menjadi viral dan banyak dibagikan di berbagai platform media sosial.
Jembatan Rusak, Aktivitas Warga Terhambat
Wali Nagari Duku, Eridal, membenarkan kondisi sulit yang dialami warganya. Ia menjelaskan bahwa kerusakan jembatan sebenarnya sudah terjadi sejak Maret 2024. Namun, jembatan tersebut benar-benar putus dan tidak dapat digunakan lagi setelah diterjang banjir pada Januari 2025.
"Awalnya jembatan hanya rusak dan belum putus, tetapi pada banjir Januari 2025, jembatan benar-benar putus dan tidak bisa digunakan," jelas Eridal. Ia menambahkan bahwa meskipun tidak ada permukiman di seberang sungai, namun banyak warga yang setiap hari beraktivitas di sana karena memiliki lahan pertanian.
Kondisi ini tentu sangat menghambat aktivitas warga sehari-hari. Eridal berharap agar pemerintah segera mengambil tindakan untuk memperbaiki jembatan tersebut, sehingga warga tidak lagi kesulitan untuk menyeberangi sungai.
Anggaran Terkendala, Perbaikan Jembatan Tertunda
Anggota DPRD Pesisir Selatan, Novermal Yuska, mengakui bahwa perbaikan jembatan tersebut sebenarnya sudah masuk dalam daftar proyek prioritas tahun ini. Namun, realisasinya harus tertunda akibat adanya efisiensi anggaran.
"Tapi karena adanya pemotongan DAU PU, DAK jalan dan DAK irigasi, semua itu tertunda," jelas Novermal. Ia berharap agar permasalahan anggaran ini dapat segera diatasi, sehingga perbaikan jembatan dapat segera dilakukan dan aktivitas warga kembali normal.
Kisah ini menjadi potret buram tentang kondisi infrastruktur yang kurang memadai di daerah-daerah terpencil. Lebih dari itu, kisah ini juga menjadi bukti nyata tentang solidaritas dan semangat gotong royong yang masih kuat di kalangan masyarakat Indonesia. Di tengah keterbatasan dan kesulitan, warga Nagari Duku tetap berusaha memberikan penghormatan terakhir kepada sesama dengan penuh dedikasi.