Kepergian Mbok Yem: Ikon Warung Puncak Lawu Berpulang di Usia 82 Tahun

Kabar duka menyelimuti dunia pendakian Indonesia. Wakiyem, yang lebih dikenal dengan sapaan akrab Mbok Yem, pemilik warung legendaris di dekat puncak Gunung Lawu, menghembuskan napas terakhirnya di usia 82 tahun. Kepergian Mbok Yem meninggalkan duka mendalam bagi para pendaki dan pecinta alam yang selama ini menjadikannya sebagai sosok sentral di Gunung Lawu.

Mbok Yem meninggal dunia di kediamannya yang terletak di Desa Gonggang, Magetan, Jawa Timur. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh Kepala Dusun Cemoro Sewu, Agus, yang menjelaskan bahwa Mbok Yem telah menjalani perawatan intensif akibat sakit yang dideritanya sejak beberapa waktu terakhir. Menurut keterangan Agus, Mbok Yem menghembuskan napas terakhir pada pukul 15.30 WIB.

Wanita yang dikenal ramah dan bersahaja ini telah berjualan di warung yang terletak di ketinggian sekitar 3.150 meter di atas permukaan laut (mdpl), tidak jauh dari puncak Hargo Dumilah, sejak era 1980-an. Warung Mbok Yem menjadi oase bagi para pendaki yang kelelahan setelah menaklukkan jalur pendakian Gunung Lawu yang menantang.

Peran Mbok Yem di Gunung Lawu

Lebih dari sekadar tempat berjualan makanan dan minuman, warung Mbok Yem menjadi simbol keramahan dan kehangatan di tengah dinginnya hawa pegunungan. Para pendaki seringkali menjadikan warungnya sebagai tempat berteduh, beristirahat, dan menjalin persahabatan. Harga makanan dan minuman yang terjangkau juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki, terutama mereka yang memiliki anggaran terbatas.

Mbok Yem bukan hanya seorang penjual, tetapi juga seorang ibu bagi para pendaki. Ia seringkali memberikan nasihat, semangat, dan bahkan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan. Keberadaannya di Gunung Lawu memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pendaki, terutama mereka yang baru pertama kali mendaki gunung ini.

Perjalanan Terakhir Mbok Yem

Sejak awal bulan Ramadan tahun ini, kesehatan Mbok Yem mulai menurun. Ia didiagnosis menderita pneumonia yang membuatnya harus menjalani perawatan intensif di RSUD Ponorogo dan RSI Aisyah Ponorogo. Karena kondisinya yang terus memburuk, Mbok Yem terpaksa turun gunung lebih awal dari biasanya, bahkan harus ditandu oleh enam orang.

Tradisi turun gunung menjelang Lebaran memang menjadi rutinitas Mbok Yem setiap tahunnya. Namun, kali ini, kondisinya yang memburuk memaksa Mbok Yem untuk mengakhiri pengabdiannya lebih cepat dari yang diharapkan.

Kepergian Mbok Yem meninggalkan duka mendalam bagi para pendaki Gunung Lawu dan masyarakat sekitar. Sosoknya akan selalu dikenang sebagai ikon legendaris yang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia pendakian Indonesia. Jenazah Mbok Yem disemayamkan di rumah duka dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Desa Gonggang, Magetan.