Gejolak Tarif AS Ancam Pertumbuhan Global, Bank Indonesia Revisi Turun Proyeksi Ekonomi Dunia
Gelombang ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh kebijakan tarif yang diterapkan Amerika Serikat (AS) memaksa Bank Indonesia (BI) untuk merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia. Langkah proteksionis AS, yang kemudian direspon oleh China dengan kebijakan serupa, dinilai akan memicu fragmentasi ekonomi global dan berdampak signifikan pada volume perdagangan internasional.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan kekhawatiran bahwa eskalasi perang tarif antara AS dan China dapat memicu gelombang pembalasan dari negara-negara lain, memperburuk lanskap perdagangan global. Konsekuensi langsung dari konflik perdagangan ini adalah penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dan China, yang selanjutnya akan berdampak pada kinerja ekonomi negara-negara maju dan berkembang.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 akan berada di bawah 5,1 persen, sedikit di bawah proyeksi sebelumnya. Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia secara keseluruhan direvisi turun dari 3,2 persen menjadi 2,9 persen, dengan AS dan China diperkirakan akan mengalami kontraksi terbesar.
Perang tarif dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan memicu peningkatan volatilitas di pasar keuangan global dan mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman. Hal ini dapat menyebabkan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan pelemahan indeks dolar AS (DXY), di tengah ekspektasi penurunan suku bunga acuan AS (Fed Funds Rate).
Arus modal global diperkirakan akan bergeser dari AS ke negara-negara dan aset yang dianggap lebih aman (safe haven asset), seperti aset keuangan di Eropa dan Jepang, serta komoditas emas. Memburuknya kondisi ekonomi global menuntut respons kebijakan yang kuat dan terkoordinasi untuk menjaga stabilitas eksternal, mengendalikan inflasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya juga telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,8 persen. Penurunan ini disebabkan oleh dampak dari tarif yang diberlakukan oleh AS dan tindakan balasan dari negara-negara lain.
Dampak Kebijakan Tarif:
- Penurunan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi AS dan China
- Fragmentasi Ekonomi Global
- Volatilitas Pasar Keuangan Global
- Pergeseran Arus Modal ke Aset Safe Haven
Sebagai informasi tambahan, laporan World Economic Outlook yang dirilis IMF juga menyoroti bahwa pengumuman kebijakan tarif antara 1 Februari dan 4 April, serta tindakan balasan dari negara-negara lain, mengurangi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,8 persen untuk tahun ini dan 3 persen untuk tahun depan.