Judika Pilih Tempuh Jalur Damai Terkait Isu Hak Cipta dengan Ahmad Dhani

Polemik terkait dugaan pelanggaran hak cipta yang menyeret nama penyanyi Judika dan musisi Ahmad Dhani memasuki babak baru. Judika, yang sempat disebut "maling lagu" oleh Ahmad Dhani, memilih untuk tidak memperpanjang masalah ini ke ranah yang lebih serius.

Dalam keterangannya kepada media di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (24/4/2025), Judika menegaskan bahwa ia lebih mengutamakan penyelesaian masalah ini melalui jalur yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ia berpendapat bahwa aturan yang jelas merupakan fondasi penting dalam menjalankan sebuah kegiatan.

"Daripada ribut-ribut, lebih baik kita menunggu keputusan sesuai peraturan. Aturan harus menjadi tonggak dalam berkegiatan," ujar Judika.

Pelantun lagu "Mama Papa Larang" ini juga mengungkapkan bahwa ia melihat adanya tujuan baik di balik pernyataan kontroversial Ahmad Dhani. Meskipun ia merasa tidak nyaman dengan sebutan "maling", Judika memilih untuk mengendalikan diri dan tidak membawakan lagu-lagu dari musisi senior untuk sementara waktu.

"Mas Dhani menyebut saya maling, tidak masalah, karena tujuannya masih sama. Saya tidak mau ribut dengan orang yang memiliki tujuan yang sama. Kita ingin semua berjalan baik, harus dipikirkan bersama, mekanismenya seperti apa, dan ini harus dibicarakan dengan seksama," jelasnya.

Saat ditanya mengenai komunikasi langsung dengan Ahmad Dhani, Judika memberikan jawaban yang diplomatis. Ia menyatakan bahwa saat ini dirinya lebih fokus menunggu hasil keputusan dari pihak-pihak terkait.

"Saya tidak tahu ya, karena ketua umum kita baru menjalankan ibadah umrah. Jadi, kami tidak ingin mengganggu hal-hal yang bersifat pribadi. Kami akan menunggu saja, karena penyanyi itu banyak, dan yang terbaik pasti akan kami pilih," katanya.

Suami dari Duma Riris ini berharap agar polemik mengenai hak cipta tidak terus berlarut-larut. Ia bahkan memiliki gagasan untuk mengajak para pemangku kepentingan, termasuk Ahmad Dhani, untuk duduk bersama dan berdiskusi secara santai guna mencari solusi terbaik terkait masalah ini.

"Mungkin yang terbaik adalah kita bertemu di suatu tempat yang nyaman, berdiskusi sambil nongkrong di warung kopi. Tidak perlu berdebat, karena ini seharusnya menjadi ajang diskusi. Kita sama-sama pelaku, sama-sama pemain di dalam industri ini, dan harus menyuarakan aspirasi ini kepada orang-orang yang menjalankan sistem ini secara tidak maksimal," pungkasnya.