Badan Gizi Nasional Targetkan Program Makan Bergizi Gratis Bebas Kasus Keracunan
Badan Gizi Nasional (BGN) tengah berupaya keras untuk menekan angka kasus keracunan makanan yang disebabkan oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan komitmennya untuk mencapai target zero accident dalam pelaksanaan program tersebut, meskipun beberapa insiden keracunan telah terjadi di berbagai daerah.
Menyusul serangkaian kejadian tersebut, BGN telah melakukan evaluasi menyeluruh yang melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, pengelola dapur MBG, dan pihak-pihak terkait. Evaluasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan dan merumuskan solusi efektif untuk mencegah terulangnya kasus keracunan di masa mendatang.
"Kami ingin mencapai 0 atau tidak ada kejadian," ungkap Dadan, menegaskan tekadnya untuk memastikan keamanan dan kualitas makanan yang disajikan dalam program MBG. Upaya mencapai zero accident menjadi prioritas utama BGN.
Dadan mengklaim bahwa evaluasi terhadap pelaksanaan MBG sejauh ini menunjukkan hasil yang positif. Ia menyebutkan bahwa secara kuantitatif, kasus keracunan yang terjadi hanya mencakup 0,5 persen dari total MBG yang telah didistribusikan. Meskipun demikian, BGN tidak menganggap remeh setiap insiden dan terus berupaya untuk meningkatkan standar keamanan pangan.
Selain evaluasi, BGN juga mengintensifkan program pelatihan dan penyegaran bagi para penjamah makanan. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan memastikan bahwa makanan disiapkan dan disajikan dengan standar kebersihan dan keamanan yang tinggi.
Sepanjang tahun 2025, beberapa kasus keracunan MBG dilaporkan terjadi di berbagai wilayah, diantaranya:
- MAN 1 dan SMP PGRI 1 Cianjur
- SDN 33 Bombana
- SDN Proyonanggan 5 Batang
- SD Katolik Andaluri, Waingapu
- SDN 2 Alaswangi, Pandeglang
- SDN 3 Dukuh, Sukoharjo
Kasus keracunan MBG di Cianjur, Jawa Barat, bahkan ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah 78 siswa dari dua sekolah mengalami gejala keracunan makanan. Investigasi awal menunjukkan bahwa penggunaan food tray berbahan dasar plastik menjadi salah satu faktor penyebab keracunan massal tersebut.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Dadan meminta penggantian food tray plastik dengan bahan yang lebih aman dan higienis. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pemisahan alur proses masuk dan keluar barang di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cianjur untuk mencegah kontaminasi silang.
"Yang pertama, food tray-nya harus diganti, karena setengah dari food tray itu masih plastik," kata Dadan.
"Kedua, kami lihat SOP untuk alur proses antara barang masuk dengan barang keluar, itu kami minta berbeda," kata Dadan.