Indonesia Berpotensi Menciptakan Jutaan Lapangan Kerja Hijau Melalui Pengembangan Kendaraan Listrik

Indonesia berpeluang besar menciptakan jutaan lapangan kerja hijau (green jobs) pada tahun 2060 jika berhasil menjadi pusat produksi kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) regional.

Proyeksi ini mengemuka dalam forum RE Invest Indonesia 2025 yang bertajuk "Indonesia as the Next EV Production Hub". Intan Salsabila Firman, seorang peneliti dari Tenggara Strategics, menyampaikan bahwa pengembangan industri EV secara signifikan dapat mendorong terciptanya antara 500 ribu hingga 2 juta pekerjaan baru.

Angka tersebut didasarkan pada proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), serta studi dari Bank Dunia dan International Council on Clean Transportation. Kajian-kajian ini menggarisbawahi potensi besar penciptaan lapangan kerja, terutama dalam sektor manufaktur baterai dan perakitan kendaraan listrik.

Kontribusi sektor kendaraan listrik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia juga tidak bisa diabaikan. Pada tahun 2020, industri EV menyumbang sekitar Rp29,56 triliun, yang didominasi oleh kegiatan manufaktur kendaraan listrik dan baterai. Fakta ini menunjukkan bahwa investasi di sektor EV memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Jenis pekerjaan hijau yang tercipta di sektor EV sangat beragam, mencakup:

  • Manufaktur kendaraan listrik
  • Produksi baterai
  • Pengembangan teknologi terkait EV

Kehadiran industri kendaraan listrik menjadi langkah strategis bagi Indonesia dalam mewujudkan ekonomi berkelanjutan, ramah lingkungan, dan berbasis pada pekerjaan hijau.

Keunggulan kompetitif utama Indonesia dalam industri EV adalah kepemilikan cadangan nikel yang mencapai 56% dari total cadangan dunia. Nikel merupakan bahan baku krusial dalam pembuatan baterai kendaraan listrik. Dengan sumber daya alam yang melimpah ini, Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global baterai EV.

Permintaan global terhadap baterai nikel diperkirakan akan terus meningkat. Indonesia perlu memanfaatkan momentum ini untuk menjadi pemasok utama dalam rantai pasok global. Untuk merealisasikan potensi ini, Indonesia perlu mengembangkan berbagai komponen penting dalam produksi baterai, seperti:

  • Katoda
  • Anoda
  • Sistem daur ulang baterai

Saat ini, pengembangan komponen-komponen tersebut masih terbatas.

Namun, pengembangan industri EV di Indonesia juga menghadapi tantangan yang perlu diatasi, meliputi:

  • Regulasi yang mendukung
  • Infrastruktur yang memadai
  • Peningkatan kesadaran masyarakat

Pemerintah perlu memberikan insentif yang menarik, tidak hanya bagi produsen baterai berbasis nikel, tetapi juga bagi konsumen kendaraan listrik. Selain itu, percepatan pengembangan komponen baterai dalam negeri sangat penting untuk memastikan Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pasar global sekaligus menciptakan lapangan kerja di dalam negeri.

Standar keberlanjutan internasional juga harus menjadi perhatian utama, mengingat negara-negara seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat semakin menerapkan regulasi ketat terkait jejak karbon.