Efisiensi Bendungan Ciawi dan Sukamahi dalam Mengatasi Banjir Jabodetabek: Tantangan Curah Hujan Ekstrem

Efisiensi Bendungan Ciawi dan Sukamahi dalam Mengatasi Banjir Jabodetabek: Tantangan Curah Hujan Ekstrem

Banjir bandang yang baru-baru ini melanda wilayah Jabodetabek kembali menguji kinerja infrastruktur pengendalian banjir, termasuk dua bendungan era Presiden Jokowi, yaitu Bendungan Ciawi dan Sukamahi. Meskipun diresmikan pada Desember 2022 dengan tujuan mereduksi debit air Sungai Ciliwung dan mencegah banjir di wilayah hilir, kedua bendungan ini menghadapi tantangan besar akibat curah hujan ekstrem yang mencapai 356 mm kubik per hari. Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA), Lilik Retno Cahyadiningsih, mengakui bahwa intensitas hujan yang jauh melebihi kapasitas normal (lebih dari 150 mm kubik per hari) mengakibatkan tidak semua aliran air mampu ditahan oleh kedua bendungan tersebut. Meskipun demikian, kedua bendungan tetap menunjukkan kinerja signifikan dengan menahan total 2,3 juta meter kubik air; 2 juta meter kubik oleh Bendungan Ciawi dan 0,3 juta meter kubik oleh Bendungan Sukamahi.

Meskipun upaya menahan debit air telah dilakukan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dody Hanggodo, menjelaskan bahwa tingginya intensitas hujan di hulu sungai menjadi penyebab utama meluapnya sejumlah sungai di Jabodetabek, termasuk di Bekasi. Beliau menekankan bahwa banjir tersebut bukan semata-mata kegagalan bendungan, melainkan dampak dari volume air hujan yang sangat tinggi yang melampaui kapasitas tampung bendungan dan sistem drainase yang ada. Pemerintah, lanjut Dody, berencana untuk melakukan diskusi lebih lanjut dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Daerah Bekasi untuk membahas langkah-langkah strategis selanjutnya, salah satunya percepatan pembangunan tanggul Sungai Bekasi. Proyek ini, diakui Dody, sempat terhambat karena kendala penyediaan lahan yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat. Selesainya pembangunan tanggul sepanjang 32 km ini diharapkan dapat mengurangi risiko banjir di wilayah Bekasi di masa mendatang.

Presiden Jokowi sendiri sebelumnya telah memberikan pernyataan terkait banjir tersebut, menekankan bahwa intensitas hujan yang luar biasa menjadi faktor utama. Beliau juga mengingatkan bahwa bendungan-bendungan tersebut dirancang untuk mereduksi aliran Sungai Ciliwung, sementara Jakarta memiliki 13 aliran sungai yang membutuhkan penanganan komprehensif. Presiden Jokowi menegaskan perlunya kelanjutan proyek normalisasi sungai di Jakarta, mengingat masih ada 12 sungai lain yang perlu dinormalisasi selain Sungai Ciliwung. Selain itu, Presiden juga menyoroti ancaman kenaikan permukaan air laut yang diperkirakan akan semakin parah di masa mendatang, bahkan berpotensi merendam sepertiga wilayah Jakarta pada tahun 2050-an.

Kesimpulannya, kinerja Bendungan Ciawi dan Sukamahi dalam menghadapi banjir Jabodetabek menunjukkan sebuah dilema antara upaya pengendalian banjir dengan keterbatasan kapasitas infrastruktur dihadapkan pada peristiwa alam yang ekstrem. Perlu ada upaya yang lebih terintegrasi dan komprehensif, yang tidak hanya berfokus pada pembangunan bendungan, tetapi juga pada pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) secara keseluruhan, termasuk normalisasi sungai, pembangunan tanggul, dan peningkatan sistem drainase, serta mitigasi dampak perubahan iklim.