Bali Towerindo Sentra Optimis Raih Target Pendapatan Rp 1,35 Triliun di Tahun 2025
PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI), emiten yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur menara telekomunikasi, menargetkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan pada tahun 2025. Perusahaan optimis dapat mencapai pendapatan sebesar Rp 1,355 triliun, didorong oleh strategi ekspansi dan fokus pada layanan berkualitas tinggi.
Wakil Direktur Utama BALI, Lily Hidayat, mengungkapkan bahwa perseroan memiliki dua pilar bisnis utama, yaitu segmen Selular dan Non-selular. Segmen Selular mencakup berbagai layanan penting seperti:
- Penyewaan menara
- Penyewaan transmisi/bandwidth
- Operasional dan pemeliharaan (O&M), termasuk penyediaan listrik dan back-up power
Sementara itu, segmen Non-selular berfokus pada:
- Layanan Fiber-to-the-X (FTTX) untuk pelanggan residensial dan korporasi dengan merek Balifiber
- Jasa Very Small Aperture Terminal Remote Terminal Ground Segment atau VSAT RTGS melalui anak usaha PT Paramita Intimega.
"Dalam bisnis Selular, kami saat ini menjadi penyedia menara terbesar di Bali dan penyedia microcell pole (MCP) utama di Jakarta," ujar Lily.
Lebih lanjut, Lily menambahkan bahwa seluruh menara yang dimiliki oleh perseroan telah terhubung dengan jaringan fiber optik dan/atau microwave. Hal ini memastikan kemampuan menara untuk mengakomodasi perkembangan teknologi di masa depan dan memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus berubah. Dalam segmen Non-selular, perseroan menawarkan layanan carrier-grade dengan kecepatan tinggi dan latensi rendah, yang sangat penting bagi pelanggan korporasi dan residensial yang membutuhkan konektivitas yang handal.
Direktur BALI, Robby Hermanto, menjelaskan bahwa target pendapatan Rp 1,355 triliun di tahun 2025 sejalan dengan rencana perusahaan untuk menambah sekitar 50 unit menara MCP dan memperluas jaringan Fiber to the Home (FTTH) hingga 30.000 home-passed. Selain itu, perseroan juga menargetkan penambahan sekitar 4.000 titik Very Small Aperture Terminal (VSAT) RTGS pada tahun yang sama.
Untuk mendukung target ambisius dan rencana ekspansi ini, BALI telah mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 471 miliar. Investasi ini akan digunakan untuk memperluas infrastruktur jaringan, meningkatkan kapasitas, dan meningkatkan kualitas layanan.
Manajemen BALI optimis bahwa prospek industri menara telekomunikasi di tahun 2025 akan tetap positif, didorong oleh dukungan pemerintah untuk pengembangan infrastruktur telekomunikasi dan jaringan digital. Faktor-faktor seperti peningkatan konsumsi data pelanggan, pertumbuhan infrastruktur digital, ketersediaan spektrum, dan konsolidasi industri, semuanya mengindikasikan potensi pertumbuhan yang signifikan bagi industri ini.
BALI telah menyiapkan strategi yang komprehensif untuk memanfaatkan peluang yang ada. Strategi ini mencakup pemasaran produk secara intensif, baik melalui pendekatan door-to-door maupun business-to-business, dengan fokus pada penyesuaian produk dengan kebutuhan pelanggan.
Selain itu, BALI juga berfokus pada pengembangan kolokasi untuk mengoptimalkan efisiensi belanja modal (capex) dan biaya operasional. Kolokasi memungkinkan beberapa operator telekomunikasi untuk berbagi infrastruktur menara yang sama, mengurangi biaya dan dampak lingkungan.
Direktur Utama BALI, Jap Owen Ronadhi, menambahkan bahwa perseroan secara agresif terus meningkatkan jumlah total home passed di wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Depok, Karawang, Surabaya, dan Bali. Di wilayah-wilayah ini, perseroan telah memiliki jaringan untuk menara telekomunikasi.
"Untuk memperluas cakupan pasar serta kualitas layanan, perseroan secara agresif telah dan akan terus meningkatkan jumlah persebaran menara telekomunikasi dan jaringan fiber optik," pungkas Jap Owen Ronadhi.