Megawati Soekarnoputri Dorong Revitalisasi Semangat KAA untuk Atasi Krisis Global

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan seruan mendesak terkait perlunya reaktivasi Konferensi Asia Afrika (KAA) dalam format yang diperbarui. Usulan ini muncul sebagai respons terhadap kompleksitas tantangan global yang semakin meningkat, termasuk konflik geopolitik yang berkepanjangan, ketidaksetaraan ekonomi yang mencolok, dampak perubahan iklim yang merusak, dan krisis kemanusiaan yang terus berlanjut, terutama yang dialami oleh rakyat Palestina.

Gagasan ini disampaikan oleh Ahmad Basarah, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri, saat membuka seminar nasional yang diselenggarakan oleh Badan Sejarah Indonesia DPP PDI Perjuangan. Seminar tersebut bertajuk 'Dari Bandung ke Dunia: Warisan Bung Karno untuk Keadilan Sosial Global'.

Menurut Basarah, Megawati menilai bahwa dunia saat ini berada di persimpangan kritis yang membutuhkan tindakan kolektif dari negara-negara Asia dan Afrika. KAA Jilid II diharapkan menjadi platform untuk mengevaluasi pencapaian dan kegagalan KAA sebelumnya, serta merumuskan strategi baru untuk mengatasi masalah-masalah global yang mendesak.

"Ibu Megawati menitipkan pesan dan gagasannya agar para pemimpin bangsa-bangsa Asia dan Afrika kembali bersatu dalam semangat Dasa Sila Bandung, melalui penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika Jilid Ke II," ujar Basarah. Pertemuan ini diharapkan menjadi wadah untuk memperbarui komitmen bersama dalam menghadapi tantangan global saat ini.

Basarah menekankan bahwa KAA 1955 adalah manifestasi visi geopolitik Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan dan perdamaian sebagai hak universal. Semangat anti-kolonialisme dan anti-imperialisme yang lahir di Bandung telah menginspirasi solidaritas Asia-Afrika dan pembentukan Gerakan Non-Blok.

"Bung Karno menegaskan kolonialisme belum hilang, hanya berganti rupa menjadi neokolonialisme melalui dominasi ekonomi, budaya, dan teknologi serta informasi, sebagai tantangan yang masih relevan hingga kini," jelasnya.

Lebih lanjut, Basarah mengenang peran penting tokoh-tokoh PNI seperti Ali Sastroamidjojo dan Roeslan Abdulgani dalam membangun reputasi diplomasi Indonesia di mata dunia. KAA Jilid II diharapkan tidak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga forum konkret untuk membangkitkan solidaritas Global Selatan-Selatan dan merespons isu-isu ketidakadilan global, eksploitasi sumber daya, ketergantungan ekonomi, dan perjuangan bangsa Palestina.

Basarah menegaskan bahwa perjuangan bangsa Palestina melawan penjajahan masih berlanjut, yang membuktikan bahwa perjuangan melawan kolonialisme belum selesai. KAA Jilid II diharapkan menjadi platform untuk menggalang kekuatan moral dan politik demi keadilan global.

Seminar nasional ini diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis untuk merealisasikan konferensi tersebut, termasuk membuka ruang kerja sama lintas negara dan organisasi internasional. Inisiatif ini diharapkan menjadi warisan hidup Soekarno yang tetap relevan di era kontemporer.