Bencana Longsor dan Banjir di Sukabumi: Satu Korban Jiwa, Tujuh Warga Hilang, dan Ratusan Mengungsi
Bencana Longsor dan Banjir di Sukabumi: Satu Korban Jiwa, Tujuh Warga Hilang, dan Ratusan Mengungsi
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Sukabumi pada Kamis malam (6/3/2025) mengakibatkan bencana longsor dan banjir yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, satu bocah meninggal dunia akibat bencana tersebut, sementara tujuh warga lainnya masih dinyatakan hilang hingga Jumat (7/3/2025). Ratusan warga lainnya terdampak langsung, dengan 159 jiwa terpaksa mengungsi.
Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Anne Hermadiane Adnan, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa tim gabungan telah dikerahkan untuk melakukan pencarian dan penyelamatan terhadap tujuh warga yang hilang. Korban hilang berasal dari beberapa kecamatan, yaitu dua orang dari Kecamatan Simpenan, tiga orang dari Kecamatan Lengkong, dan dua orang lagi dari Kecamatan Palabuhanratu. Upaya pencarian dan penyelamatan terus dilakukan secara intensif dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
Selain korban jiwa dan warga yang hilang, bencana ini juga menimbulkan dampak yang signifikan terhadap infrastruktur dan permukiman. BPBD Jabar mencatat setidaknya lima unit rumah mengalami kerusakan berat, lima unit lainnya rusak ringan, dan sebelas fasilitas umum terdampak. Bencana ini juga mengakibatkan 116 kepala keluarga (KK) atau 204 jiwa terdampak langsung. Dari jumlah tersebut, 31 KK atau 159 jiwa dipaksa mengungsi ke tempat-tempat penampungan yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah.
Kecamatan-kecamatan yang terdampak bencana antara lain:
- Kadudampit
- Curugkembar
- Simpenan
- Waluran
- Bantargadung
- Warungkiara
- Sagaranten
- Lengkong
- Jampangtengah
BPBD Jabar telah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sukabumi dan aparat setempat untuk melakukan upaya tanggap darurat, termasuk evakuasi warga terdampak dan pendistribusian bantuan logistik. Tim gabungan terus bekerja keras untuk memastikan keselamatan masyarakat dan memberikan bantuan yang dibutuhkan bagi para pengungsi. Upaya pemulihan infrastruktur juga akan segera dilakukan setelah proses pencarian dan penyelamatan selesai.
Anne Hermadiane Adnan juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat cuaca ekstrem diprediksi masih akan terjadi di beberapa wilayah Jawa Barat. Masyarakat dihimbau untuk segera melaporkan informasi kebencanaan atau kondisi darurat di wilayah masing-masing kepada pihak berwenang untuk mempercepat proses penanganan bencana.
Kejadian ini kembali menyoroti pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana alam, khususnya di wilayah-wilayah yang rawan bencana hidrometeorologi. Peningkatan sistem peringatan dini, pembangunan infrastruktur yang tahan bencana, dan edukasi masyarakat mengenai mitigasi bencana merupakan langkah-langkah penting untuk meminimalisir dampak bencana di masa mendatang.