Tantangan Pengawasan Bawah Laut: TNI AL Ajukan Pengadaan Sonar Pendeteksi Kapal Selam Asing

TNI AL Akui Kekurangan Sensor Pendeteksi Kapal Selam Asing

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengungkapkan bahwa saat ini Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) masih menghadapi kendala dalam mendeteksi keberadaan kapal selam asing yang melintas di perairan yurisdiksi Indonesia. Pengakuan ini disampaikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI, yang menyoroti kesiapan dan kemampuan TNI AL dalam menjaga keamanan maritim.

Laksamana Ali menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama kendala ini adalah belum dimilikinya peralatan sonar canggih yang mampu mendeteksi kapal selam asing secara efektif. TNI AL telah mengajukan permohonan pengadaan alat deteksi tersebut kepada Kementerian Pertahanan (Kemhan), sebagai bagian dari upaya modernisasi alutsista (alat utama sistem persenjataan) TNI AL.

"Pengawasan bawah laut kita belum memiliki sensor sama sekali, baru pengajuan ke Kementerian Pertahanan," ujar Laksamana Ali, mengindikasikan bahwa kemampuan deteksi bawah laut saat ini masih sangat minim.

Kurangnya kemampuan deteksi bawah laut ini menjadi perhatian serius, mengingat luasnya wilayah perairan Indonesia dan potensi ancaman yang dapat timbul dari aktivitas kapal selam asing yang tidak terdeteksi. Terutama di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), jalur strategis yang sering dilalui kapal-kapal asing, termasuk kapal selam.

TNI AL sendiri tengah berupaya meningkatkan kemampuan Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal) yang ada di Markas Besar Angkatan Laut (Mabes AL) maupun di sejumlah Komando Armada (Koarmada). Sistem Pusat Komando Pengendalian TNI Angkatan Laut (Sispuskodal) dipersiapkan untuk mendukung konsep pemantauan keamanan laut secara komprehensif, berkelanjutan, adaptif, responsif dan inklusif.

Pengembangan Sispuskodal

Adapun pengembangan Sispuskodal tahap I meliputi beberapa aspek penting, antara lain:

  • Peningkatan kemampuan server
  • Integrasi 7 satuan kerja (satker) TNI AL
  • Peningkatan kemampuan penginderaan jarak jauh dengan satelit
  • Perkembangan intelijen multimedia komunikasi
  • Pengembangan intelijen sosial media analisis
  • Peningkatan kemampuan tools monitoring dan analisa untuk pemandu dan pengendalian TNI Angkatan Laut

Capaian Pengawasan

Namun, Laksamana Ali mengakui bahwa capaian pengawasan bawah laut saat ini masih 0%. Sementara itu, capaian pengawasan secara komprehensif dalam aspek pengawasan jarak jauh mencapai 50%, dan kawasan pesisir serta perairan teritorial mencapai 30%.

"Ini pengawasan bawah laut kita belum memiliki sensor sama sekali," tegasnya lagi, menekankan pentingnya pengadaan alat deteksi kapal selam untuk meningkatkan kemampuan pengawasan maritim secara keseluruhan.