Tuduhan Kerja Paksa dan Pelecehan Seksual Menyeret P. Diddy ke Pengadilan
Tuduhan Kerja Paksa dan Pelecehan Seksual Menyeret P. Diddy ke Pengadilan
Sebuah gugatan baru yang diajukan pada Kamis, 6 Maret, menambah deretan panjang tuduhan terhadap Sean "P. Diddy" Combs. Gugatan tersebut menuduh sang mogul hip-hop melakukan kerja paksa, pelecehan seksual, dan kekerasan fisik terhadap karyawannya. P. Diddy, yang saat ini ditahan di Pusat Penahanan Metropolitan di Brooklyn sejak September 2024, menghadapi persidangan pidana pada 5 Mei 2025. Gugatan ini melibatkan beberapa entitas bisnis miliknya, termasuk Bad Boy Entertainment, Combs Enterprises, dan Combs Global.
Penggugat dalam gugatan ini mengklaim dipaksa untuk berhubungan seksual dengan P. Diddy di bawah ancaman. Jaksa menggambarkan sebuah pola perilaku yang melibatkan jam kerja ekstrem tanpa waktu istirahat yang memadai, disertai ancaman yang berdampak psikologis, finansial, dan reputasional. Tuduhan tersebut juga meluas pada dugaan kekerasan fisik terhadap perempuan sejak tahun 2009, termasuk pemukulan, peninjukan, penyeretan, pelemparan benda, dan penendangan. Kekerasan ini, menurut gugatan, dilakukan oleh P. Diddy secara langsung.
Lebih mengejutkan lagi, gugatan tersebut menuduh keterlibatan sejumlah staf dalam kejahatan tersebut. Staf diduga berperan sebagai perantara dalam mengatur pesta seks, termasuk menyiapkan kamar hotel, menyediakan zat terlarang, baby oil, dan pelumas, serta membersihkan lokasi setelah pesta berakhir. Mereka juga diduga terlibat dalam pengaturan perjalanan bagi korban dan pekerja seks komersial, guna menutupi jejak kejahatan P. Diddy. Skala keterlibatan staf dalam kegiatan ini menunjukkan dugaan sistematis dalam melindungi dan memfasilitasi perilaku terdakwa.
Menanggapi tuduhan tersebut, pengacara P. Diddy, Marc Agnifilo, langsung membantah seluruhnya. Agnifilo menyatakan bahwa kliennya "menantikan hari di pengadilan ketika semuanya akan jelas bahwa dia tidak pernah memaksa siapa pun untuk melakukan tindakan seksual yang bertentangan dengan keinginan mereka." Ia juga mengklaim bahwa banyak mantan karyawan P. Diddy siap bersaksi membela bos mereka, menggambarkannya sebagai pemimpin yang inspiratif. Namun, terlepas dari bantahan ini, P. Diddy tetap ditahan dan menunggu persidangan yang akan menentukan nasibnya di depan hukum.
Persidangan yang akan datang diperkirakan akan menjadi pertarungan hukum yang sengit dan kompleks, melibatkan banyak saksi dan bukti. Hasilnya akan memiliki dampak signifikan tidak hanya pada karir P. Diddy, tetapi juga pada perdebatan lebih luas mengenai tanggung jawab perusahaan dan perlindungan karyawan terhadap pelecehan dan eksploitasi di tempat kerja. Tuduhan-tuduhan ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai budaya korporasi yang mungkin telah memfasilitasi tindakan-tindakan tersebut selama bertahun-tahun.