Riset Ilmiah Fondasi Utama Konservasi Biodiversitas Indonesia
Kepala Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Asep Hidayat, menegaskan peran krusial kajian ilmiah dalam menopang upaya konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam forum daring Jamming Session Seri 1 Tahun 2025 yang mengusung tema "Konservasi dan Pemanfaatan Tumbuhan Khas Indonesia".
Asep menjelaskan bahwa dampak kajian ilmiah dalam bidang konservasi mungkin tidak terasa secara instan. Akan tetapi, pemanfaatan hasil riset yang tepat guna dapat memberikan pengaruh signifikan dalam jangka panjang. Pendekatan konservasi yang ideal bukan hanya berfokus pada pelestarian semata, melainkan juga pada pengelolaan kekayaan hayati secara berkelanjutan. Hal ini mencakup penerapan pengetahuan mendalam, teknologi modern, serta integrasi kearifan lokal.
Ancaman terhadap upaya konservasi, seperti alih fungsi lahan, deforestasi, dan perubahan iklim, menjadi sorotan utama. Mengatasi tantangan ini membutuhkan strategi konservasi yang terintegrasi dan berkelanjutan, yang didukung oleh kolaborasi lintas sektor dan didasarkan pada data ilmiah yang akurat. Indonesia memiliki ribuan spesies tumbuhan khas yang bersifat endemik, langka, serta memiliki nilai ekologis, ekonomis, dan budaya yang tinggi.
"Keberadaan flora kita sedang menghadapi tekanan besar mulai dari deforestasi, konversi lahan, perambahan hutan, hingga perubahan iklim. Sehingga, tak sedikit spesies kini berada di ambang kepunahan," ungkap Asep.
Oleh karena itu, penting untuk menciptakan wadah strategis yang mempertemukan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi di lapangan. Ketua Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), Tukirin Partomihardjo, menambahkan bahwa tujuan konservasi melampaui sekadar pelestarian keanekaragaman hayati. Lebih dari itu, konservasi bertujuan menjaga sistem pendukung kehidupan dan memastikan pemanfaatannya secara berkelanjutan.
"Dari kurang lebih 6.500 spesies tumbuhan yang sudah dikaji statusnya, 21,4 persen tumbuhan terancam punah, 1 jenis sudah punah dan 2 jenis punah di alam. Sedangkan pemerintah baru menetapkan 116 spesies atau 13 persen tumbuhan," jelas Tukirin.
Tukirin menggarisbawahi pentingnya konservasi tumbuhan khas Indonesia sebagai bagian integral dari upaya menjaga kelestarian alam dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Strategi konservasi yang efektif harus mencakup perlindungan habitat, pengelolaan kawasan secara berkelanjutan, dan restorasi lahan terdegradasi.
Kerja sama antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, peneliti, masyarakat, dan pemerintah, menjadi kunci keberhasilan penyelamatan pohon langka di Indonesia. Upaya kolaboratif ini akan memperkuat fondasi konservasi dan memastikan keberlanjutan keanekaragaman hayati Indonesia untuk generasi mendatang.
Berikut adalah beberapa poin penting yang perlu diperhatikan:
- Perlindungan Habitat: Melindungi habitat alami tumbuhan langka dari kerusakan dan degradasi.
- Pengelolaan Kawasan Berkelanjutan: Mengelola kawasan konservasi secara berkelanjutan untuk memastikan kelestarian ekosistem.
- Restorasi Lahan Terdegradasi: Memulihkan lahan-lahan yang telah terdegradasi untuk meningkatkan habitat tumbuhan langka.
- Kerjasama Multi-pihak: Mendorong kerjasama antara berbagai pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan konservasi.
Dengan tindakan nyata dan komitmen bersama, Indonesia dapat menjaga keanekaragaman hayati yang tak ternilai harganya dan memastikan keberlanjutan lingkungan hidup untuk masa depan.