Ancaman di Balik Inflasi Rendah: Analisis Dampak pada Ekonomi Nasional

Inflasi di Indonesia menunjukkan angka yang rendah pada Maret 2025, yaitu sebesar 1,03 persen secara tahunan. Kendati demikian, ekonom mengingatkan bahwa kondisi ini menyimpan potensi risiko yang perlu diwaspadai.

Ekonom dari Segara Institute, Piter Abdullah Redjalam, menjelaskan bahwa inflasi rendah ini mengindikasikan adanya kelemahan dalam permintaan domestik. Situasi ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Penurunan daya beli masyarakat, yang dipicu oleh peningkatan angka pemutusan hubungan kerja (PHK), menjadi faktor utama penyebab rendahnya permintaan tersebut.

"Inflasi yang sangat rendah, bahkan menyentuh angka 1 persen, seharusnya menjadi perhatian serius. Ini mencerminkan kondisi kurangnya permintaan yang pada akhirnya dapat berdampak pada kurangnya keuntungan ekonomi," ujar Piter dalam sebuah diskusi virtual.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi Maret 2025 jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu 3,05 persen pada Maret 2024 dan 4,97 persen pada Maret 2023. Padahal, bulan Maret biasanya bertepatan dengan momen Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, di mana lazimnya terjadi peningkatan harga dan permintaan barang yang signifikan. Penurunan inflasi terutama terlihat pada sektor harga pangan bergejolak, yang turun dari 10,33 persen menjadi 0,37 persen, serta pada harga yang diatur pemerintah, yang mengalami deflasi sebesar 3,16 persen.

Sementara itu, inflasi inti mengalami peningkatan, yaitu sebesar 2,48 persen, dibandingkan dengan 1,77 persen pada Maret 2024. Kenaikan ini didorong oleh permintaan terhadap komoditas emas dan barang-barang impor. Namun, peningkatan inflasi inti ini tidak serta merta menjadi kabar baik. Di tengah kondisi nilai tukar yang tertekan oleh ketidakpastian global, kenaikan ini justru dapat menyebabkan harga barang impor menjadi lebih mahal.

"Secara keseluruhan, permintaan mengalami penurunan. Kita sedang berada dalam kondisi inflasi yang sangat rendah, yang lebih disebabkan oleh penurunan permintaan," jelas Piter.

Lebih lanjut, Piter menjelaskan bahwa inflasi yang rendah dapat menghambat pertumbuhan ekonomi karena kurangnya permintaan domestik yang kuat untuk mendorong perekonomian. Konsumsi dan investasi merupakan dua faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, konsumsi sulit diharapkan tinggi ketika daya beli masyarakat menurun. Kondisi ini akan membatasi peran konsumsi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dengan kondisi ini, Piter memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun ini akan sulit mencapai 5 persen jika pemerintah tidak segera mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki perekonomian. Proyeksi ini sejalan dengan perkiraan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memprediksi ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4,7 persen pada tahun 2025.

"IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi kita di kisaran 4,7 persen, dan saya kira paparan saya ini mendukung hal tersebut. Perekonomian kita akan sangat sulit berada di 5 persen, dan akan berada di kisaran 4,7-4,8 persen atau bahkan lebih rendah apabila gejolak global semakin memburuk dan kita tidak melakukan respon kebijakan secara tepat," pungkasnya.