Bank Mandiri Catat Pertumbuhan Kredit Solid, Fokus Sektor Strategis dan Digitalisasi
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menunjukkan kinerja yang menggembirakan di kuartal pertama 2025 dengan mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 16,5% secara year-on-year (yoy), mencapai angka Rp 1.672 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh performa yang kuat dari segmen wholesale dan retail, menegaskan posisi Bank Mandiri sebagai salah satu motor penggerak perekonomian nasional.
Menurut Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, perseroan secara selektif mengarahkan penyaluran kredit ke sektor-sektor yang memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Sektor-sektor tersebut meliputi konstruksi dan infrastruktur, energi, makanan dan minuman, serta industri padat karya lainnya. Strategi ini sejalan dengan komitmen Bank Mandiri untuk mendukung program-program pembangunan pemerintah dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.
"Pertumbuhan yang solid ini tersebar merata di berbagai wilayah di Indonesia, menunjukkan komitmen kami untuk mendukung pembangunan di seluruh penjuru nusantara," ujar Darmawan dalam konferensi pers virtual terkait Kinerja Bank Mandiri Kuartal I/2025.
Kinerja Segmen Kredit Utama
Secara rinci, kinerja segmen kredit utama Bank Mandiri menunjukkan tren positif. Kredit korporasi mencatat pertumbuhan sebesar 20% yoy, mencapai Rp 608 triliun pada kuartal pertama 2025. Sementara itu, kredit komersial juga tumbuh signifikan sebesar 21,4% yoy, dengan nilai mencapai Rp 296 triliun.
Bank Mandiri juga terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kredit kepada sektor UMKM tumbuh 8,9% secara tahunan, meningkat sebesar Rp 11 triliun menjadi Rp 136 triliun pada kuartal pertama 2025. Selain itu, kualitas kredit UMKM juga terjaga dengan baik, dengan tingkat Non-Performing Loan (NPL) yang terkendali di level 1,4%, membaik 14 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tingkat NPL yang terjaga ini berdampak positif pada perbaikan biaya kredit atau Cost of Credit (CoC) ke level 0,71% dari 0,99% pada periode sebelumnya.
Transformasi Digital dan Efisiensi Operasional
Bank Mandiri terus memacu transformasi digital melalui penguatan platform Livin' by Mandiri dan Kopra by Mandiri. Hingga Maret 2025, tercatat sebanyak 30,7 juta pengguna Livin' by Mandiri. Platform ini mencatat frekuensi transaksi mencapai 1,1 miliar transaksi pada kuartal I 2025, meningkat 30% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan nilai transaksi menembus Rp 1.070 triliun, meningkat 16% secara YoY.
Kopra by Mandiri juga menunjukkan kinerja yang impresif, dengan mencatatkan volume transaksi sebesar 349 juta hingga kuartal I 2025. Nilai transaksi yang dikelola oleh Kopra by Mandiri tumbuh 23% secara YoY, mencapai Rp 6.000 triliun.
Optimalisasi layanan digital melalui Livin' by Mandiri dan Kopra by Mandiri telah mendorong volume transaksi digital Bank Mandiri mencapai Rp 7.066 triliun hingga akhir Maret 2025, tumbuh 21,9% secara tahunan.
Kinerja positif ini juga berdampak pada efisiensi operasional Bank Mandiri. Rasio biaya terhadap pendapatan (Cost to Income Ratio/CIR) bank only terjaga di level 38,2% pada akhir Kuartal I 2025.
Ekspansi Layanan Digital dan Dukungan UMKM
Sejalan dengan upaya memperluas jangkauan layanan digital, Bank Mandiri terus mengembangkan Livin' Merchant, yang diluncurkan pada Juni 2023. Hingga Maret 2025, platform ini telah mencatat sekitar 2,6 juta pengguna terdaftar, tumbuh 35% dibandingkan tahun sebelumnya.
Didukung oleh pertumbuhan pengguna aktif bulanan yang meningkat hingga 3 kali lipat dibandingkan periode Maret 2024, Livin' Merchant menjadi salah satu pendorong utama digitalisasi UMKM di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah non-urban.
"Kami terus mengakselerasi inovasi digital untuk menghadirkan layanan perbankan yang semakin relevan dan adaptif terhadap kebutuhan nasabah di era yang dinamis ini. Kami berharap, dengan transformasi berkelanjutan, Bank Mandiri dapat memberikan nilai tambah nyata dan memperkuat hubungan jangka panjang dengan masyarakat dan nasabah," jelas Darmawan.
Digitalisasi juga berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan non bunga konsolidasi, yang mencapai 17,3% secara YoY per Maret 2025, menjadi sebesar Rp11,24 triliun. Peningkatan ini didukung oleh pertumbuhan transaksi digital, layanan trade finance, treasury, dan pengelolaan dana, yang memperkuat diversifikasi pendapatan perseroan.