Aparat Filipina Amankan Warga Negara Asing Terkait Aktivitas Mencurigakan di Dekat Kantor Pemilu
Aparat keamanan Filipina baru-baru ini mengamankan seorang warga negara asing asal Tiongkok atas dugaan penggunaan alat pengintai di sekitar kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Filipina di Manila. Penangkapan ini terjadi menjelang pelaksanaan pemilihan umum sela yang akan datang.
Menurut keterangan pihak berwenang, individu tersebut diduga menggunakan perangkat yang dikenal sebagai "IMSI catcher." Alat ini memiliki kemampuan untuk meniru menara seluler dan mencegat pesan udara dalam radius yang cukup luas, diperkirakan antara satu hingga tiga kilometer. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait potensi gangguan terhadap integritas proses pemilu.
Juru bicara Biro Investigasi Nasional Filipina, Ferdinand Lavin, mengonfirmasi penangkapan tersebut dan menyatakan bahwa warga negara asing itu telah mengunjungi kantor KPU sebanyak tiga kali. Lebih lanjut, Lavin mengungkapkan bahwa individu tersebut juga tercatat pernah mengunjungi beberapa lokasi penting lainnya, termasuk Mahkamah Agung, Departemen Kehakiman, dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Manila.
Identitas warga negara asing tersebut diketahui memegang paspor yang diterbitkan oleh Makau, sebuah wilayah administratif khusus di bawah pemerintahan Tiongkok. Sementara itu, seorang pengemudi warga Filipina yang disewa oleh warga negara asing tersebut bersedia bekerja sama dengan pihak berwenang dalam penyelidikan dan tidak ditahan.
Insiden ini terjadi di tengah persiapan Filipina untuk menggelar pemilihan umum sela pada tanggal 12 Mei mendatang. Pemilu ini akan menentukan ratusan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat, serta ribuan jabatan kepala daerah di seluruh negeri.
Perlu dicatat bahwa ketegangan antara Filipina dan Tiongkok sedang meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, Beijing menuduh Filipina melakukan kegiatan mata-mata di wilayahnya dan mengklaim telah membongkar jaringan intelijen Filipina. Dewan Keamanan Nasional Filipina membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa pengakuan yang disiarkan oleh media pemerintah Tiongkok tampaknya direkayasa.
Tuduhan spionase ini muncul di tengah sengketa wilayah perairan Laut Cina Selatan dan meningkatnya ketegangan dalam hubungan keamanan antara Manila dan Amerika Serikat. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Kedutaan Besar Tiongkok di Manila maupun KPU Filipina terkait penangkapan ini.