Misa Requiem untuk Lilie dan Elsa: Kenangan dan Kesedihan di Balik Pendakian Puncak Carstensz

Misa Requiem untuk Lilie dan Elsa: Kenangan dan Kesedihan di Balik Pendakian Puncak Carstensz

Kota Malang menyelenggarakan misa requiem yang khidmat pada Jumat, 7 Maret 2025, untuk mengenang kepergian dua pendaki gunung, Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono. Kedua almarhumah ditemukan meninggal dunia setelah melakukan pendakian di Puncak Carstensz, Pegunungan Jaya Wijaya, Papua Tengah. Misa yang diselenggarakan di SMAK Santo Albertus, atau yang lebih dikenal dengan Dempo, dihadiri oleh sekitar 150 alumnus, terutama angkatan 1984, yang merupakan teman dekat Lilie dan Elsa. Acara yang dipimpin oleh Romo Paulus Teguh Kusbiantoro ini dipenuhi dengan suasana haru dan mengenang perjalanan hidup kedua almarhumah.

Hadi Laksono, kakak dari Elsa, menyampaikan pidato yang menyentuh hati. Dalam sambutannya, Hadi mengungkapkan kesedihan yang mendalam atas kepergian adiknya dan sahabat Lilie. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh yang hadir dan memohon maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah diperbuat oleh Elsa dan Lilie. Persembahan Ekaristi, menurut Hadi, diharapkan dapat menjadi bekal spiritual bagi kedua almarhumah dalam perjalanan terakhir mereka. Suasana hening menyelimuti ruangan saat Hadi menyampaikan ungkapan duka cita yang begitu dalam, menyiratkan ikatan persahabatan yang begitu erat antara almarhumah dengan para sahabatnya.

Saroni, rekan satu rombongan pendakian, berbagi kisah perjalanan mereka menuju Puncak Carstensz. Ia mengungkapkan bahwa Lilie yang pertama kali mengusulkan pendakian ke puncak tertinggi di Indonesia ini. Proses persiapan pendakian yang memakan waktu enam bulan, termasuk latihan pendakian di gunung-gunung di Jawa dan Sumatera, dan latihan climbing intensif selama tiga bulan terakhir, menunjukkan dedikasi dan kesungguhan mereka untuk mencapai puncak. Mereka bahkan berlatih di bawah bimbingan pelatih seven summit dunia. Pendakian tersebut bukan sekadar petualangan, tetapi juga sebuah bukti dari persahabatan yang kuat dan tekad yang tak tergoyahkan.

Saroni juga menjelaskan detail perjalanan, termasuk bagaimana mereka menghadapi cuaca ekstrem berupa badai salju, angin kencang, dan hujan deras saat perjalanan turun. Ia menjelaskan bahwa karena kelelahan dan hipotermia, dirinya dan Indira memilih untuk beristirahat di dekat puncak, sementara Lilie dan Elsa melanjutkan perjalanan bersama rombongan lain. Namun, di Teras II, kondisi Lilie dan Elsa memburuk dan mereka meninggal dunia. Saroni menegaskan bahwa Lilie dan Elsa selalu didampingi oleh guide berpengalaman sepanjang perjalanan, membantah adanya dugaan mereka ditinggalkan sendirian. Peristiwa ini menyoroti betapa keras dan penuh risiko pendakian puncak Carstensz, bahkan bagi pendaki yang sudah sangat berpengalaman dan dipersiapkan dengan matang.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan betapa berharganya persahabatan dan semangat petualangan. Misa requiem tersebut tidak hanya menjadi momen berkabung, tetapi juga perayaan akan hidup dan semangat Lilie dan Elsa yang telah menginspirasi banyak orang. Kisah mereka akan selalu dikenang, menjadi legenda tersendiri di kalangan para pendaki gunung di Indonesia. Kehilangan mereka meninggalkan duka mendalam, namun juga meninggalkan pelajaran berharga tentang pentingnya persiapan matang dan menghormati kekuatan alam yang begitu dahsyat. Semoga kepergian mereka diiringi damai dan tenang.