Fenomena 'Mas Batik Ganteng': Host Live Streaming Batik Jadi Idola Baru di Dunia Maya

Demam 'Mas Batik Ganteng' tengah melanda jagat maya, khususnya platform TikTok. Dua pria muda, Farhan dari Yogyakarta dan Tulus Adi Wicaksono dari Solo, berhasil mencuri perhatian warganet berkat kepiawaian mereka mempromosikan batik melalui siaran langsung (live streaming).

Farhan, yang baru dua bulan menekuni profesi sebagai host live di sebuah toko batik di Yogyakarta, sukses memikat hati puluhan ribu penonton. Gaya bicaranya yang lembut dan ramah menjadi daya tarik utama. Tak sedikit warganet yang merekam aksinya saat live dan mengunggahnya kembali di media sosial, hingga akhirnya Farhan viral dan kebanjiran tawaran endorse.

"Aku tahu kalau sering di-record, karena viralnya memang gara-gara video rekaman itu banyak diposting ulang sama netizen dan ditonton banyak orang," ujar Farhan saat diwawancarai di sebuah acara televisi. Meski kini menikmati popularitasnya, Farhan mengaku cita-citanya sebenarnya adalah menjadi seorang pilot.

Sementara itu, Tulus Adi Wicaksono, host live streaming dari Solo, memiliki gaya yang berbeda. Ia dikenal dengan persona 'marah-marah' saat live. Uniknya, kemarahannya bukan karena hal negatif, melainkan karena banyaknya penonton yang memberikan gift saat ia sedang berjualan. Tulus lebih memilih fokus menjual batik daripada menerima gift, meskipun ia mengakui bahwa pendapatan dari gift sebenarnya lebih besar.

"Aku yang live selama enam jam dan dari awal ramah. Saya sering dikasih gift dan tidak kepengen memang kitanya tidak boleh meminta. Kalau dikasih aku tidak kepengen soalnya ingin fokus jualan," jelas Tulus.

Kehadiran Farhan dan Tulus membuktikan bahwa batik, warisan budaya Indonesia, tetap relevan dan diminati di kalangan generasi muda. Dengan pendekatan kreatif melalui live streaming, mereka berhasil meningkatkan penjualan batik dan memperkenalkan produk lokal kepada audiens yang lebih luas.

Berikut adalah beberapa perbedaan gaya antara Farhan dan Tulus:

  • Farhan: Gaya bicara lembut, ramah, dan soft spoken. Fokus pada presentasi produk batik yang detail.
  • Tulus: Gaya bicara tegas, cenderung 'marah-marah' secara positif. Lebih fokus pada interaksi dengan penonton dan menolak pemberian gift.

Kedua 'Mas Batik Ganteng' ini, dengan gaya mereka masing-masing, telah memberikan warna baru dalam dunia promosi batik online dan membuktikan bahwa kreativitas adalah kunci untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Farhan mampu menjual 90 baju batik perhari, sedangkan Tulus mampu menjual 200 baju batik perhari.