Uji Coba Kereta Tanpa Rel di IKN Gagal: Apa Penyebabnya?

Mimpi Transportasi Cerdas di IKN Terganjal: Kereta Tanpa Rel Dikembalikan ke China

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai kota cerdas terus dikejar dengan berbagai inovasi teknologi, termasuk dalam bidang transportasi. Salah satu upaya yang sempat dilakukan adalah pengujian Autonomous Rail Transit (ART), atau kereta tanpa rel, yang didatangkan dari China. Namun, setelah serangkaian uji coba yang berlangsung dari Agustus hingga Oktober 2024, proyek ini menemui jalan buntu. Kereta tersebut dinyatakan tidak memenuhi standar operasional yang diharapkan dan akhirnya dikembalikan ke negara asalnya pada akhir April 2025.

Proyek ART ini merupakan hasil kolaborasi antara Otorita IKN, perusahaan Norinco, dan produsen kereta CRRC Qingdao Sifang. Diharapkan menjadi solusi transportasi publik yang ramah lingkungan, kereta ini memiliki kapasitas hingga 302 penumpang dalam tiga gerbong. Teknologi yang digunakan mengandalkan baterai dan sensor untuk navigasi otonom, mengikuti marka jalan tanpa memerlukan rel konvensional. Keunggulan ART terletak pada biaya investasi yang lebih rendah dibandingkan kereta rel konvensional dan potensi pengurangan emisi karbon, selaras dengan visi IKN sebagai kota berkelanjutan.

Uji coba ART dimulai pada 10 Agustus 2024 di kawasan inti pemerintahan IKN, mencakup rute di Jalan Sumbu Kebangsaan Barat dan Timur. Tujuan utama dari uji coba ini adalah untuk mengevaluasi keandalan teknologi otonom, aspek keselamatan, dan kinerja baterai. Sayangnya, hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan, yang berujung pada keputusan untuk menghentikan proyek dan mengembalikan kereta ke China. Lalu, apa saja faktor yang menyebabkan kegagalan ini?

Akar Permasalahan: Mengapa ART Gagal Beroperasi Otonom?

Evaluasi independen yang melibatkan para ahli transportasi dari berbagai universitas terkemuka dan asosiasi profesional mengungkapkan beberapa catatan kritis yang menjadi penyebab kegagalan ART. Di antaranya:

  • Sistem Otonom Tidak Optimal: Kereta dirancang untuk beroperasi tanpa pengemudi, mengandalkan sensor, radar, dan kecerdasan buatan (AI) untuk navigasi. Namun, selama uji coba, sistem otonom tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pengemudi harus selalu siap mengambil alih kendali secara manual, menunjukkan kurangnya keandalan sistem. Selain itu, tidak adanya kontrol rute terprogram untuk mengatur kecepatan dan pengereman membuat ART kesulitan beradaptasi dengan kondisi lalu lintas campuran di IKN.
  • Pengereman Otonom Tidak Responsif: Kelemahan fatal lainnya adalah ketidakmampuan sistem pengereman otonom untuk mendeteksi rintangan atau objek di jalur. ART gagal memperlambat, mengerem, atau memberikan peringatan secara otomatis, meningkatkan risiko keselamatan. Hal ini jelas bertentangan dengan standar keamanan tinggi yang diterapkan untuk transportasi publik di IKN.
  • Keterbatasan Kemampuan Dua Arah: Sistem kendali otonom ART tidak mendukung operasi dua arah (bidirectional), yang sangat penting untuk fleksibilitas rute di IKN. Selain itu, teknologi yang digunakan masih tergolong prototipe dan belum teruji sepenuhnya di lingkungan operasional yang kompleks.

Selain masalah teknis, beberapa faktor eksternal juga berkontribusi terhadap kegagalan uji coba ini:

  • Kondisi Lalu Lintas Campuran: Uji coba dilakukan di jalur yang juga digunakan oleh kendaraan lain, sementara IKN masih dalam tahap pembangunan. Hal ini menciptakan tantangan tambahan bagi sistem otonom yang belum sepenuhnya matang.
  • Standar Tinggi IKN: Sebagai living laboratory untuk inovasi, IKN menetapkan standar yang sangat ketat untuk teknologi transportasi, termasuk interoperabilitas, nilai ekonomis, dan transfer teknologi. ART dinilai tidak memenuhi kriteria ini, terutama dengan biaya yang diperkirakan mencapai Rp 70 miliar per unit, yang dianggap tidak sebanding dengan performanya.
  • Kurangnya Adaptasi: Sistem ART yang diuji di IKN belum diadaptasi untuk kondisi lokal, seperti pembaruan sistem komunikasi sesuai standar keamanan siber atau peningkatan fitur keselamatan. Padahal, adaptasi ini penting untuk memastikan operasional yang optimal.

Meski demikian, kegagalan ART tidak menyurutkan ambisi IKN untuk mewujudkan ekosistem smart mobility. Otorita IKN tetap berkomitmen untuk mengembangkan transportasi cerdas terintegrasi melalui aplikasi Mobility-as-a-Service (MaaS). Platform ini akan memungkinkan warga untuk memesan berbagai moda transportasi, seperti bus listrik, sepeda listrik, hingga urban air mobility, melalui satu aplikasi terpadu, mendukung target 80 persen perjalanan menggunakan transportasi publik atau mobilitas aktif. Otorita IKN juga membuka peluang bagi produsen lain untuk mengajukan uji coba dengan fokus evaluasi pada kualitas teknologi, interoperabilitas, nilai ekonomis, dan transfer pengetahuan.