Kekhawatiran Tarif Impor AS Picu Pelarian Modal ke Aset Emas
Kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump telah menimbulkan gejolak dalam perekonomian global. Dampak langsung dari kebijakan ini adalah pergeseran investasi besar-besaran menuju aset yang dianggap lebih aman, terutama emas.
Arsjad Rasjid, Ketua Dewan Pengawas Indonesian Business Council (IBC), mengungkapkan bahwa Indonesia termasuk negara yang merasakan dampak kebijakan tarif impor AS yang mencapai 32%. Kebijakan ini memicu ketidakstabilan di pasar domestik, mendorong investor untuk menarik dana mereka dari aset-aset berisiko seperti saham. Kondisi ini tercermin dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
"Pelemahan nilai tukar rupiah, fluktuasi IHSG yang belum stabil, dan lonjakan harga emas adalah indikasi yang jelas," ujar Arsjad dalam sebuah diskusi di Jakarta. Kenaikan harga emas menandakan bahwa pelaku pasar dan masyarakat umum berusaha melindungi nilai aset mereka dari ketidakpastian ekonomi dengan beralih ke aset safe haven.
Sejak awal tahun 2025, harga emas global telah mengalami kenaikan sekitar 25%, mencapai level 3.200 dollar AS per ons. Di pasar domestik, harga emas Antam juga melonjak hingga mencapai Rp 1,9 juta per gram. Bahkan, pada tanggal 22 April 2025, harga emas dunia sempat mencapai rekor tertinggi di 3.500,05 dollar AS per ons, sementara emas Antam mencapai Rp 2.016.000 per gram.
"Terjadi aksi beli emas secara besar-besaran karena kepanikan pasar. Namun, saya mengingatkan masyarakat untuk tetap berhati-hati dan tidak ikut-ikutan tanpa pertimbangan matang," imbuhnya.
Arsjad menekankan pentingnya perputaran dana dalam perekonomian. Ketika dana hanya disimpan dan dialihkan ke emas, aktivitas jual beli terhambat dan pertumbuhan ekonomi terpengaruh. Kepanikan pasar dapat menyebabkan stagnasi karena tidak adanya perputaran uang.
Namun, di tengah gejolak global ini, Arsjad melihat peluang bagi Indonesia. Perubahan dalam rantai pasok global mendorong perusahaan-perusahaan mencari lokasi produksi baru untuk menghindari biaya tinggi akibat tarif impor AS. Indonesia memiliki potensi untuk menarik investasi asing dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimilikinya.
"Menurut saya, ada peluang besar yang harus kita manfaatkan. Dunia sedang mencari lokasi produksi baru untuk rantai pasok global, dan Indonesia memiliki kesempatan untuk mengisi kekosongan tersebut. Kita memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mungkin tidak dimiliki oleh negara lain," pungkas Arsjad.