Harapan Baru Petani Jangkaran: Bertani Cabai di Lahan Sabuk Hijau Setelah Janji Pekerjaan di YIA Pupus
Setelah harapan akan pekerjaan di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) tak kunjung terwujud, puluhan warga Desa Jangkaran, Kulon Progo, kini beralih profesi menjadi petani cabai. Mereka memanfaatkan lahan sabuk hijau penahan tsunami yang dulunya merupakan tempat mereka mencari nafkah sebelum tergusur proyek pembangunan bandara.
Sejak awal tahun 2025, dengan semangat baru, mereka kembali menggarap lahan tersebut di bawah naungan pohon cemara udang yang rindang. Lahan seluas tiga hektar, yang merupakan bagian dari Persil 32 milik Kadipaten Pakualaman (PA), kini dipenuhi lebih dari 5.000 pohon cabai yang tumbuh subur. Sebelumnya, lahan ini difungsikan sebagai greenbelt, berfungsi sebagai mitigasi terhadap potensi bencana tsunami dari Samudra Hindia.
Warga Jangkaran membudidayakan cabai khas pesisir Kulon Progo yang dikenal dengan nama cabai Paku. Cabai ini memiliki ciri khas warna merah menyala dan adaptif terhadap kondisi tanah berpasir. Para petani memperkirakan dapat memanen antara 10 hingga 20 kuintal cabai setiap musimnya, dengan frekuensi panen mencapai 10 hingga 20 kali petik.
Andang Sutrisno, Ketua Kelompok Tani Maju Makmur, menjelaskan bahwa sebagian besar petani adalah generasi muda, bahkan banyak di antaranya adalah petani milenial. Mereka sebelumnya adalah buruh tani yang mengandalkan lahan pantai sebelum proyek YIA mengubah segalanya.
"Dulu dijanjikan pekerjaan di bandara YIA, tapi ternyata ada kendala kapasitas. Seiring berjalannya waktu, janji itu memudar, berganti pemimpin, berganti kebijakan, semuanya berubah," ungkap Andang, menggambarkan kekecewaan yang sempat dirasakan.
Namun, semangat pantang menyerah membawa mereka kembali ke lahan, kali ini dengan restu dari Kadipaten Pakualaman. Warga menggarap lahan dengan tetap berkomitmen menjaga kelestarian sabuk hijau. Mereka tidak menebang pohon, melainkan hanya merapikan ranting-rantingnya agar tanaman cabai mendapatkan cukup sinar matahari.
"Kami berharap, kehidupan ekonomi petani Jangkaran membaik, sehingga bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari," imbuh Andang, menyuarakan harapan seluruh anggota kelompok tani.
Lurah Jangkaran, Purwoko, menambahkan bahwa saat ini ada 22 petani yang aktif menggarap lahan Persil 32. Panen sebagian sudah dimulai dan diharapkan akan terus berlanjut dalam beberapa pekan mendatang.
"Harapan kami, penggarap Persil 32 ini bisa menjadi contoh tertib administrasi," ujar Purwoko pada acara panen perdana.
Dukungan juga datang dari Penghageng Kawedanan Kaprajan, KPH Bayudono, yang menyampaikan pesan leluhur bahwa tanah sebaiknya dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan masyarakat. Ia berharap pemanfaatan lahan ini dapat memberikan hasil yang optimal bagi masyarakat.
Dengan memanfaatkan lahan sabuk hijau untuk bertani cabai, warga Jangkaran tidak hanya menciptakan sumber penghidupan baru, tetapi juga menunjukkan komitmen mereka terhadap kelestarian lingkungan. Kisah mereka adalah contoh nyata bagaimana kesulitan dapat diubah menjadi peluang dengan kerja keras, inovasi, dan dukungan dari berbagai pihak.