Pemkab Lebak Gencarkan Inventarisasi Kawasan Gunung, Respons Kekhawatiran Masyarakat Adat Baduy
Pemerintah Kabupaten Lebak menunjukkan keseriusannya dalam menanggapi isu kerusakan lingkungan yang disuarakan oleh masyarakat adat Baduy terkait kondisi sejumlah gunung dan bukit di wilayah Banten. Sebagai langkah konkret, Bupati Lebak, Hasbi Jayabaya, menyatakan komitmennya untuk melakukan inventarisasi menyeluruh dan restorasi kawasan terdampak, dengan fokus utama pada 32 gunung yang berada di wilayah administratif Lebak.
Komitmen tersebut diungkapkan saat prosesi ritual Seba Baduy yang berlangsung di Pendopo Bupati Lebak pada Jumat malam (2/5/2025). Bupati Hasbi menegaskan kesepahamannya dengan masyarakat adat Baduy mengenai pentingnya menjaga dan memulihkan kondisi gunung dan bukit di Banten. Ia berjanji akan segera memulai proses inventarisasi lokasi-lokasi gunung yang dimaksud.
"Ada 32 gunung di Lebak yang perlu direstorasi dan dijaga. Tidak boleh dilebur. Insyaallah saya akan inventaris terlebih dahulu lokasi gunung tersebut," ujar Bupati Hasbi.
Lebih lanjut, Bupati Hasbi menekankan bahwa tradisi Seba Baduy bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan juga menjadi momentum penting untuk merefleksikan keseimbangan antara manusia dan alam. Ia menyatakan bahwa amanat yang disampaikan oleh para tokoh adat Baduy akan menjadi pertimbangan utama dalam perumusan kebijakan lingkungan di Kabupaten Lebak.
Komitmen ini merupakan tindak lanjut dari permintaan langsung yang disampaikan oleh pemangku adat Baduy, Saidi Putra. Dalam amanatnya, Saidi Putra menyoroti dampak nyata dari kerusakan lingkungan, terutama di wilayah Kecamatan Bayah, Lebak, dan Ujung Kulon, Pandeglang. Ia secara khusus meminta perhatian pemerintah daerah untuk mengatasi masalah kerusakan hutan dan pencemaran aliran air guna mencegah terjadinya bencana alam.
Saidi Putra menekankan bahwa kerusakan lingkungan bukanlah sekadar isu teoritis, melainkan ancaman nyata yang dapat memicu bencana seperti tsunami atau angin topan. Ia menyerukan tindakan nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan, termasuk menjaga kebersihan dan kelestarian sumber air, baik di darat maupun di air.
"Jangan sampai kejadiannya penyakit alam seperti tsunami atau angin topan. Ini bukan cerita, ini fakta," kata Saidi kepada wartawan usai prosesi ritual Seba Baduy.
"Itu perlu diurus sama semua bangsa. Lingkungannya, di aliran airnya jangan di cemari dan tidak boleh dikotori. Di darat, di air juga, itu sebuah larangan," kata Saidi.