Siswantoro: Harmoni Dua Dunia, Guru Olahraga dan Arsitek Taktik Arema FC

Di tengah riuhnya persiapan Liga 1 musim 2024-2025, nama Siswantoro mencuri perhatian. Bukan hanya karena perannya di jajaran pelatih Arema FC, melainkan juga karena profesinya sebagai guru olahraga di SMAN 1 Tumpang, Kabupaten Malang.

Dedikasi ganda ini dijalani Siswantoro dengan penuh semangat. Baginya, ini adalah sebuah panggilan jiwa. "Ini adalah takdir yang harus saya emban. Selama saya mampu menjalaninya, saya akan terus melakukannya. Ini adalah panggilan hati," ungkap Siswantoro, menggambarkan komitmennya terhadap kedua bidang tersebut.

Perjalanan dari Bangku Sekolah ke Pinggir Lapangan

Kisah Siswantoro adalah tentang keseimbangan antara pendidikan dan sepak bola. Sejak belia, ia telah menyeimbangkan kedua minatnya ini.

Ketika memilih untuk melanjutkan studi di IKIP Budi Utomo Malang, orang tuanya khawatir sepak bola akan menghambat pendidikannya. Namun, Siswantoro berhasil meyakinkan mereka bahwa keduanya dapat berjalan beriringan.

"Saya memilih sekolah, tetapi niat saya juga untuk bermain sepak bola. Akhirnya, saya berhasil menjalankan keduanya. Hobi saya menjadi profesi," kenangnya.

Tentu saja, perjalanannya tidak selalu mulus. Ia kerap absen dari kuliah karena jadwal pertandingan yang bentrok. Namun, dengan tekad yang kuat, ia berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu empat tahun. Sebagian besar biaya kuliahnya bahkan ditutupi dari hasil bermain sepak bola.

"Saya sangat senang saat itu. Dari situ, orang tua saya mulai percaya," ujar Siswantoro.

Dari Juara Lapangan Hijau Menjadi Pendidik Sejati

Puncak karier sepak bola Siswantoro adalah ketika ia membawa Persik Kediri meraih gelar juara Liga Indonesia. Prestasi ini membuka jalannya untuk menjadi pegawai negeri sipil dan guru pada tahun 2007. Awalnya bertugas di Kediri, ia kemudian pindah ke Tumpang agar lebih dekat dengan keluarganya.

Saat ini, Siswantoro memiliki jadwal yang sangat padat. Ia mendampingi latihan Arema FC sekaligus mengajar di sekolah. Semua tugas ini dijalankannya dengan penuh tanggung jawab.

"Saya selalu menyiapkan program untuk siswa jika saya harus absen karena Arema. Saya meminta bantuan guru lain, tetapi programnya tetap saya yang buat," jelas pria kelahiran Madiun, 2 Mei 1967 ini.

Bagi Siswantoro, kehadirannya di sekolah bukan sekadar formalitas. Ia berkomitmen untuk mendidik dan membentuk karakter siswa, sama seperti ia melatih pemain di lapangan.

"Di sekolah, saya mendidik. Di lapangan, saya membentuk prestasi. Intinya sama, yaitu membentuk manusia yang lebih baik," tambahnya.

Pendidikan sebagai Investasi Masa Depan

Sebagai lulusan S1 dan S2 di bidang pendidikan olahraga dan kesehatan, Siswantoro sangat menghargai nilai pendidikan. Penelitiannya selama kuliah selalu terkait dengan dunia sepak bola. Skripsinya membahas hubungan antara IQ dan keterampilan bermain bola, sementara tesis S2-nya meneliti pemain Persekam Metro FC, klub yang saat itu ia latih.

Ia menekankan pentingnya pendidikan bagi para atlet muda.

"Saya selalu mendorong pemain muda untuk tetap memprioritaskan sekolah. Jika memungkinkan, sambil kuliah. Sepak bola ada masanya, tetapi pendidikan bisa menjadi penyelamat saat karier berakhir," ungkapnya.

Siswantoro juga memiliki pandangan tersendiri tentang sistem pendidikan. Menurutnya, perubahan kurikulum bukanlah isu utama. Yang terpenting adalah pendekatan guru dan pelatih terhadap anak didiknya.

"Pendidikan tetap penting. Apapun sistemnya, guru dan pelatih harus memiliki hati. Mereka harus dekat dengan anak-anak," ujarnya.

"Mengajar anak remaja membutuhkan pendekatan khusus. Jika terlalu keras, mereka tidak akan nyaman. Harus ada komunikasi yang santai tetapi tetap mendidik," imbuhnya.

Humanis di Balik Seragam Singo Edan

Sebagai pelatih Arema FC, Siswantoro dikenal sebagai sosok yang mudah didekati. Ia mampu menciptakan suasana yang menyenangkan dengan humornya, namun tetap profesional dalam bekerja. Ia aktif menyusun program latihan fisik dan teknis, serta menjadi jembatan komunikasi antara pelatih kepala dan pemain.

"Saya menikmati keduanya. Saat latihan, saya serius. Tetapi di luar itu, saya ingin pemain merasa nyaman. Karena suasana yang baik akan menghasilkan tim yang kuat," pungkas Siswantoro.