Demi Biaya Pendidikan Anak, Porter Stasiun Gambir Pilih Tangguh Mudik Lebaran
Demi Biaya Pendidikan Anak, Porter Stasiun Gambir Pilih Tangguh Mudik Lebaran
Di tengah arus mudik Lebaran yang membludak, sebagian besar warga Indonesia bergegas pulang kampung untuk merayakan hari raya bersama keluarga. Namun, di balik hiruk-pikuk perjalanan mudik, terdapat kisah berbeda yang dialami Tarmuji (47), seorang porter di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Ia rela mengorbankan momen Idul Fitri bersama keluarga di Blora, Jawa Tengah, demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, khususnya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
Dengan seragam biru khas porter Grup Biru Stasiun Gambir, Tarmuji setiap hari tampak bersemangat menawarkan jasa angkut barang kepada para penumpang kereta api jarak jauh. Meskipun suasana stasiun belum terlalu ramai pada Sabtu (8/3/2025) – yang diyakininya karena sebagian besar calon penumpang masih menunggu waktu yang lebih dekat dengan Lebaran – Tarmuji tetap sigap melayani setiap calon penumpang yang membutuhkan bantuannya. Ia memprediksi puncak keramaian akan terjadi sekitar seminggu sebelum hari raya Idul Fitri, saat jumlah penumpang kereta api melonjak drastis dan permintaan jasa porter pun meningkat signifikan.
"Kalau untuk hari ini termasuk landai," ujar Tarmuji saat ditemui di Stasiun Gambir. "Mungkin penumpang juga masih menunggu momen Lebaran yang sebentar lagi tiba." Ia menjelaskan, masa-masa Lebaran merupakan periode yang paling dinantikan oleh para porter di Stasiun Gambir, karena kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan sangat besar. Namun, kesempatan ini diperoleh dengan pengorbanan besar, yaitu melewatkan momen Lebaran bersama keluarga tercinta.
Keputusan Tarmuji untuk tidak mudik tahun ini bukan tanpa pertimbangan matang. Ia menyadari bahwa penghasilan tambahan selama Lebaran sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya. Meskipun ia enggan menyebutkan secara pasti angka pendapatan yang diperoleh selama periode Lebaran, ia menegaskan bahwa penghasilan tersebut sangat membantu dalam menunjang perekonomian keluarganya.
"Tidak (mudik saat lebaran), habis lebaran baru pulang. Soalnya lebaran momen yang ditunggu semua porter," kata Tarmuji. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ia tidak mematok tarif tertentu dan menerima berapa pun yang diberikan penumpang sebagai imbalan atas jasanya. Baginya, yang terpenting adalah memberikan pelayanan terbaik kepada para penumpang.
"Kalau untuk tarif kita terserah sama penumpang. Di sini kita nggak mematok atau menghargai barang yang kita bawa, nggak. Yang penting kita kerjanya itu benar-benar melayani penumpang, untuk masalah rezeki udah ada yang ngatur. Kalau pelayanan kita baik itu penumpang juga menghargai juga," tutur Tarmuji dengan penuh kesederhanaan.
Tarmuji merupakan salah satu dari 120 porter yang tergabung dalam Grup Biru Stasiun Gambir. Stasiun Gambir sendiri memiliki dua paguyuban porter, yaitu Grup Biru dan Grup Merah, yang bekerja secara bergantian sesuai shift yang telah ditentukan. Kisah Tarmuji menjadi gambaran nyata betapa besar pengorbanan yang dilakukan sebagian pekerja informal demi menghidupi keluarga dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
Dengan bekerja keras dan ikhlas, Tarmuji berharap bisa terus memberikan yang terbaik bagi keluarganya. "Alhamdulillah masih bisa lah buat keluarga, buat nyekolahin anak ya alhamdulillah cukup. Kita kerja di sini mensyukuri aja. Yang penting kita kerja ikhlas, nanti rezeki juga datang juga," tambahnya dengan senyum yang merefleksikan rasa syukur dan optimisme.